![]() |
| pesawat tempur Lockheed Martin F-35 Lightning II yang sedang menjalani pemeliharaan oleh personel darat di hanggar. | USAF |
Ketika ketegangan geopolitik meningkat dalam satu dekade terakhir, rantai pasok pertahanan Barat berada di bawah tekanan yang jarang terlihat sebelumnya. Gangguan kecil pada pasokan mineral tanah jarang dapat mengguncang produksi senjata strategis, mulai dari rudal jelajah hingga sistem drone serang jarak jauh.
Setelah Beijing memperketat lisensi ekspor mineral kritis sejak awal 2025, kekhawatiran itu berubah menjadi ujian nyata. Industri pertahanan Amerika dan Eropa berhadapan dengan skenario ekstrem yang selama bertahun-tahun hanya menjadi pembahasan di ruang analisis.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana dominasi China dalam pengolahan rare earth menjadi faktor penentu yang dapat memperlambat rearmament Barat.
China diperkirakan menguasai sekitar 90% kapasitas pemrosesan rare earth global dan sebagian besar produksi magnet permanen dunia. Ketika pasokan itu tertahan atau terganggu, dampaknya langsung terasa pada sistem senjata yang membutuhkan magnet presisi, aktuator, dan sensor berbasis neodymium, praseodymium, atau dysprosium.
Rantai pasok yang dibongkar ulang
Dalam sebuah laporan Reuters yang mengutip pernyataan seorang eksekutif perusahaan drone Amerika bahwa proses verifikasi kini dilakukan secara sangat ketat, termasuk membongkar setiap drone hingga chip terkecil untuk mengetahui asal komponen.
Verifikasi dilakukan melalui program Blue UAS milik instansi pertahanan, yang menyaring perangkat agar bebas dari komponen signifikan asal China, Rusia, atau Korea Utara. Proses verifikasi ini kini dilakukan secara hampir obsesif, menunjukkan betapa besar ketergantungan pada supply-chain yang rawan.
Upaya itu menunjukkan respons Barat terhadap dominasi China dalam rantai drone dan komponen elektronik. Data pasar drone global memperkirakan China menguasai sekitar 80% pangsa pasar drone global.
Situasi ini membuat negara seperti Inggris, Ukraina, Polandia, dan Taiwan berupaya mempercepat kapasitas produksi dalam negeri, meski hasilnya sejauh ini terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan skala besar terutama dalam konteks perang Ukraina.
Boikot rare earth dan dampak berantai
Awal 2025 menjadi awal pergeseran ketika Beijing menahan ekspor sejumlah mineral tanah jarang setelah pemerintahan AS menaikkan tarif terhadap produk teknologi China—langkah yang memicu pembatasan lisensi ekspor rare earth dan material kritis. Industri pertahanan dan penerbangan Barat langsung merasakan dampaknya.
Sektor pertahanan AS, misalnya, sangat bergantung pada magnet permanen berbasis rare earth untuk motor dan sistem kendali jet tempur F-35, rudal Tomahawk/Javelin, hingga sensor radar.
Pengaruh dominasi China terhadap supply magnet permanen makin jelas karena terganggunya pasokan bisa langsung menggagalkan produksi sistem persenjataan kompleks.
Uni Eropa juga menyuarakan keresahan. Kontrol ekspor rare earth dari China telah “menempatkan tekanan besar pada perusahaan Eropa” dan bisa memperlambat produksi amunisi dan sistem militer, membuka celah bagi apa yang kritikus sebut sebagai “tekanan strategis.” Lebih dari 95% impor rare-earth Eropa berasal dari China, menciptakan risiko sistemik.
Sistem persenjataan yang rentan terhenti
Gangguan pasokan mineral tanah jarang berdampak langsung pada produksi sejumlah sistem senjata. Misalnya, Rudal Tomahawk memiliki lebih dari 70 komponen yang bergantung pada magnet berbasis rare earth.
Pada drone Predator dan Reaper, sistem elektromekanis untuk stabilisasi kamera dan aktuator sayap menggunakan magnet berdaya tinggi NdFeB. Gangguan pada pasokan neodymium menghambat produksi motor presisi.
Sektor artileri dan rudal taktis juga tidak luput dari dampak. Uni Eropa menghadapi kekurangan amunisi sepanjang 2023–2025 akibat kapasitas produksi terbatas dan ketergantungan pada bahan seperti magnesium dan tungsten, memperlambat produksi secara luas.
Sumbatan elektronik dan krisis subkomponen
Selain mineral tanah jarang, gangguan terbesar muncul dari segmen elektronik. Banyak komponen mikro, sensor, modul daya, dan chip khusus diproduksi melalui rantai pasok global terintegrasi di Asia Timur. Jika China memperketat kontrol, pasokan untuk radar dan sistem kendali bisa terganggu. Banyak sistem rudal dan avionik masih mengandalkan IC lama yang pabriknya berada di Asia Timur, sehingga proses desain ulang dan sertifikasi ulang dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Kombinasi dominasi rare earth dan komponen elektronik memperkuat kekhawatiran bahwa gangguan supply chain bisa memukul industri pertahanan Barat secara simultan. Pasokan sensor optik dan modul lensa juga menjadi isu, karena sebagian material kaca khusus hanya diproduksi di beberapa pemasok China.
Konteks geopolitik juga makin memperparah tekanan pada rantai pasok. Konflik di Ukraina telah menciptakan lonjakan kebutuhan, sementara China tampak mampu menjaga aliran komponen ke kedua belah pihak, memberikan Beijing leverage geopolitik.
Dalam skenario Asia Timur, jika terjadi blokade Taiwan, industri pertahanan Amerika menghadapi krisis ganda, yaitu mineral tanah jarang dan semikonduktor, karena Taiwan memproduksi sekitar 90% chip tercanggih dunia.
Upaya mitigasi yang terbatas
Amerika dan Uni Eropa mencoba beberapa langkah untuk mengurangi ketergantungan. Di AS, perusahaan seperti MP Materials mulai membangun kembali rantai supply domestik, namun kapasitasnya masih jauh di bawah skala China.
Di Eropa, Critical Raw Materials Act menargetkan tidak lebih dari 65% pasokan mineral kritis berasal dari satu negara pada 2030. Namun, pembangunan tambang baru membutuhkan waktu 3–5 tahun hanya untuk produksi awal.
Proyeksi industri menunjukkan bahwa output refined non-China hanya akan bisa menggantikan sebagian kecil dari dominasi China, membuat transisi membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Situasi rantai pasok pertahanan Barat menunjukkan bagaimana satu kebijakan ekspor China dikombinasikan dengan struktur monopoli global dapat mengganggu produksi sistem senjata canggih. Ketergantungan terhadap China tetap menjadi titik lemah strategis.

0Komentar