![]() |
| Xi Jinping, Presiden Tiongkok. |
Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmen partai untuk mewujudkan reunifikasi dengan Taiwan sekaligus mempercepat pembangunan militer berkelas dunia. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato peringatan 105 tahun berdirinya Partai Komunis China (PKC) di Gedung Pertemuan Agung Rakyat, Beijing, Rabu pagi.
Dalam pidato tersebut, Xi menyebut upaya reunifikasi sebagai "komitmen teguh" partai, mengulang lagi frasa yang kerap muncul dalam pidato-pidato pentingnya belakangan ini. Ia juga berjanji "menjunjung kepemimpinan absolut partai" atas angkatan bersenjata, sejalan dengan target Beijing memodernisasi penuh Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army/PLA) menjelang peringatan seabad berdirinya pada 2027.
Xi berbicara di hadapan sejumlah pejabat teras partai, termasuk Li Qiang dan Zhao Leji. Ia mendorong seluruh kader PKC untuk "teguh dalam keyakinan" dan melanjutkan misi partai di era baru, sembari menyebut PKC telah menulis "epik paling megah dalam sejarah bangsa Tiongkok yang berlangsung selama ribuan tahun".
Penguatan kampanye antikorupsi juga kembali ia singgung, meneruskan arahan badan disiplin partai sejak Januari untuk memperdalam pemberantasan korupsi sepanjang periode Rencana Lima Tahun ke-15.
Pidato ini digelar di tengah tekanan militer China yang terus berlanjut terhadap Taiwan. Pada akhir 2025, Beijing menggelar latihan militer berskala besar di sekitar pulau itu. Analis menilai PLA belakangan makin sering menggelar latihan gabungan untuk berbagai skenario terkait Taiwan, termasuk kemungkinan intervensi Amerika Serikat (AS).
Ada yang berbeda dari retorika Xi kali ini. Kata sifat "damai" yang biasa mengiringi kata reunifikasi kini absen, melanjutkan pola yang sudah diamati sejak pidato Tahun Baru 2026, saat Xi menyebut reunifikasi sebagai sesuatu yang "tidak terbendung".
Di sela pidato, Xi juga menganugerahkan Medali 1 Juli, penghargaan tertinggi partai, kepada sejumlah kader teladan. Ia menempatkan PKC, yang kini beranggotakan lebih dari 101 juta orang, sebagai kekuatan berjangkauan global dan model tata kelola bagi negara-negara berkembang.
Suasana ini berlangsung saat hubungan Beijing dan Washington memanas, sementara sekutu-sekutu Taiwan makin cemas. Presiden Taiwan Lai Ching-te berulang kali menegaskan komitmennya menjaga kedaulatan pulau itu dan memperkuat pertahanannya.
Sejumlah analis Barat memandang peringatan 100 tahun PLA pada 2027 sebagai tonggak penting, bukan sebagai titik mula invasi, melainkan momen tercapainya kesiapan operasional penuh yang bisa mengubah kalkulasi hubungan lintas Selat Taiwan.
0Komentar