Trump dan Netanyahu selama konferensi pers bersama di Gedung Putih. | WHITE HOUSE
Amerika Serikat berupaya mencegah Israel terlibat dalam gelombang serangan terbaru terhadap Iran, ketika para mediator regional bergerak menghidupkan kembali jalur diplomasi yang nyaris runtuh. Langkah itu dilakukan setelah lebih dari 170 serangan AS menghantam sasaran-sasaran militer Iran dalam 48 jam terakhir pekan ini, memicu balasan dari Teheran dan meningkatkan risiko meluasnya konflik di Timur Tengah.

Laporan CNN pada Jumat menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump khawatir keterlibatan Israel akan memperumit operasi militer Washington sekaligus mengurangi kendali AS atas situasi. Informasi itu mengutip dua sumber Israel yang mengetahui pembahasan tersebut.

Salah satu sumber mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ingin ikut dalam operasi militer AS, tetapi Washington belum menginginkan keterlibatan sekutunya itu.

"Netanyahu sangat ingin bergabung dalam serangan AS, tetapi AS tidak menginginkan keterlibatan Israel saat ini," kata sumber tersebut kepada CNN.

Meski demikian, seorang pejabat AS membantah laporan itu kepada Fox News Digital. Ia menyebut informasi tersebut sebagai "berita palsu" dan menegaskan Washington "tetap berkoordinasi erat dengan mitra-mitra Israel kami".

Di tengah perbedaan narasi itu, para pemimpin Israel tetap menyampaikan sikap keras terhadap Iran. Netanyahu mengatakan dalam sebuah upacara angkatan udara pada Kamis (9/7) bahwa "perang belum berakhir". Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga menegaskan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) siap melanjutkan operasi militer.

IDF, kata Katz, "siap untuk melanjutkan kampanye, merebut kembali supremasi udara, dan melaksanakan serangan Israel secara mandiri terhadap Iran untuk mengeliminasi ancaman".

Analis Israel Nadav Eyal dari Yedioth Aharonoth menilai posisi pemerintah Israel lebih rumit dibanding pernyataan resminya.

"Secara resmi, Israel memberi sinyal bahwa mereka siap dan bahkan bersemangat untuk menyerang Iran. Namun secara tidak resmi, sumber-sumber menyatakan bahwa situasinya sama sekali tidak demikian," ujarnya kepada Fox News Digital.

Menurut Eyal, setiap serangan Israel berpotensi memicu balasan rudal balistik dari Iran ke wilayah Israel.

Eskalasi terbaru bermula ketika Iran menyerang tiga kapal dagang di Selat Hormuz pada Selasa.

Komando Pusat AS kemudian melancarkan sekitar 80 serangan terhadap target Iran pada malam yang sama, disusul sekitar 90 serangan lagi pada malam berikutnya. Sasaran operasi mencakup sistem pertahanan udara, radar, rudal anti-kapal, serta lebih dari 60 kapal kecil di sepanjang pesisir selatan Iran.

Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya terluka di lima provinsi Iran akibat rangkaian serangan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump menyatakan nota kesepahaman yang dicapai pada Juni telah "BERAKHIR". Namun ia juga mengungkapkan bahwa Iran meminta pembicaraan kembali dilanjutkan dan Washington telah menyetujuinya.

Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan mengaktifkan kembali blokade laut terhadap Iran.

"Kami mungkin akan memberlakukannya kembali — blokade itu — dan itu hanya akan menjadi blokade untuk Iran," katanya kepada wartawan saat menghadiri KTT NATO di Turki.

Menurut sumber yang dikutip Fox News, negosiator Qatar telah melakukan perjalanan ke Iran dengan berkoordinasi bersama AS untuk bertemu para pejabat Iran dan membuka kembali ruang perundingan.

Qatar bersama Pakistan sebelumnya menjadi mediator nota kesepahaman yang disepakati pada 17 Juni. Kesepakatan itu menghentikan pertempuran sementara dan membuka jendela negosiasi selama 60 hari untuk membahas isu nuklir Iran.

Kini masa jeda tersebut memasuki fase yang disebut para pejabat penuh ketegangan, dengan tenggat 21 Agustus menjadi batas waktu penting bagi kelanjutan proses diplomatik.