![]() |
| pertemuan antara Volodymyr Zelenskyy dan Donald Trump di KTT NATO di Ankara, Turki, pada bulan Juli 2026. | EPA |
Sikap itu disampaikan saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela KTT NATO di Ankara, Turki, Rabu (8/7), menandai perubahan penting dalam pendekatan pemerintahan Trump terhadap perang Rusia-Ukraina.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Trump menilai serangan Ukraina ke wilayah Rusia bukan sekadar eskalasi konflik, tetapi juga dapat mempercepat jalan menuju berakhirnya perang. Pada kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem Patriot di dalam negeri.
Pandangan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Menurut dia, rangkaian serangan jarak jauh Ukraina dalam beberapa bulan terakhir telah mengubah dinamika peperangan karena memaksa Rusia mengalihkan perhatian untuk mempertahankan wilayah udaranya sendiri.
"Saya rasa itulah salah satu dinamika yang berubah dalam perang ini selama beberapa bulan terakhir, yakni Rusia kini semakin kesulitan mempertahankan wilayah udaranya sendiri. Dan yang kami harapkan dari hal itu adalah terciptanya ruang untuk menegosiasikan pengakhiran perang ini," ujar Rubio.
Trump kemudian menegaskan pandangannya. "Ini adalah eskalasi, tapi ini juga eskalasi yang dapat membantu membawa kita menuju akhir" dari perang tersebut.
Selain menyampaikan dukungan terhadap strategi militer Ukraina, Trump juga menawarkan kerja sama baru di bidang pertahanan. Kepada Zelenskyy, ia mengatakan AS siap memberikan lisensi agar Ukraina dapat memproduksi sistem pertahanan udara Patriot sendiri.
"Kami akan memberikan lisensi kepada Anda untuk membuat Patriot. Keren, kan?" kata Trump.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyambut positif peningkatan kemampuan serangan jarak jauh Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia. Ia menilai operasi tersebut telah memberikan tekanan baru kepada Rusia, sekaligus mencatat bahwa Trump mengakui dampaknya terhadap jalannya perang.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina meningkatkan intensitas serangan drone ke berbagai target strategis Rusia. Sasarannya meliputi terminal minyak di St. Petersburg, Pangkalan Angkatan Laut Kronstadt, hingga kilang minyak di wilayah Yaroslavl dan Leningrad serta sejumlah fasilitas produksi bahan bakar lainnya.
Tekanan itu mulai diakui Moskwa. Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini untuk pertama kalinya mengakui bahwa serangan drone Ukraina telah memengaruhi produksi bahan bakar Rusia.
Di saat manuver diplomatik berlangsung di Ankara, Rusia masih melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Kyiv. Rentetan serangan beberapa hari menjelang KTT NATO menewaskan puluhan orang serta merusak kawasan permukiman, memperkuat pandangan pejabat Ukraina bahwa perubahan tekanan terhadap Moskwa diperlukan untuk membuka peluang penyelesaian perang.
Trump sendiri pada Senin mengatakan penyelesaian konflik "semakin dekat dari yang disadari banyak orang", meski hingga kini belum ada rencana pembicaraan damai terstruktur yang melibatkan Washington, Kyiv, dan Moskwa.

0Komentar