Ilustrasi Kapal Induk China Fujian
China diduga tengah membekali kapal induk terbarunya, Fujian, dengan sistem pertahanan aktif anti-torpedo (anti-torpedo torpedo/ATT), sebuah teknologi yang dirancang untuk menghancurkan torpedo yang melaju ke arah kapal sebelum mengenai sasaran. 

Jika benar diterapkan, Fujian akan menjadi kapal induk pertama di dunia yang mengoperasikan kemampuan hard-kill semacam itu sebagai bagian dari pertahanan organiknya.

Laporan South China Morning Post (SCMP) pada Juli menyebut sistem tersebut dikembangkan untuk menghadapi ancaman kapal selam modern Amerika Serikat yang membawa torpedo berat berpemandu kawat. 

Kehadiran ATT juga mencerminkan upaya Beijing memperkuat perlindungan kapal induknya di tengah persaingan bawah laut yang masih didominasi armada AS.

Fujian merupakan kapal induk ketiga China sekaligus kapal induk pertama yang sepenuhnya dirancang dan dibangun di dalam negeri. Berbeda dengan dua pendahulunya yang menggunakan peluncur bom laut 12 tabung, Fujian dilaporkan memakai peluncur torpedo ringan enam tabung berdiameter 324 milimeter yang diduga menjadi bagian dari sistem pencegat torpedo baru tersebut.

Dirancang hadapi torpedo generasi baru

Menurut SCMP, sistem ATT dikembangkan sebagai respons terhadap ancaman kapal selam serang kelas Seawolf dan kapal selam nuklir generasi berikutnya SSN(X) milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Kedua platform itu dipersenjatai torpedo berat yang dinilai mampu menimbulkan kerusakan lebih besar terhadap kapal perang dibandingkan sejumlah rudal anti-kapal.

Pencegat tersebut menggunakan susunan sonar broadband untuk membedakan torpedo asli dari umpan. Sistem itu juga dibekali pendorong pump-jet bermagnet permanen yang memungkinkan torpedo pencegat melesat hingga 50-60 knot hanya dalam tiga detik sehingga mampu mengejar sasaran yang bermanuver.

Untuk menghancurkan ancaman, ATT memanfaatkan muatan berbentuk (shaped charge) dan gelombang kejut tekanan tinggi. Teknologi itu bahkan disebut berpotensi dikembangkan dengan konsep supercavitation sehingga kecepatan intersepsi dapat mencapai sekitar 200 knot saat menghadapi ancaman bawah laut pada jarak dekat.


Kelemahan perang anti-kapal selam masih membayangi

Pengembangan ATT juga dinilai berkaitan erat dengan keterbatasan kemampuan perang anti-kapal selam (anti-submarine warfare/ASW) Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN).

Dalam artikel yang diterbitkan 1945 pada Februari 2026, Steve Balestrieri menilai kapal induk China masih dirancang beroperasi relatif dekat wilayahnya sendiri di bawah perlindungan rudal dan pesawat berbasis darat. Konsep itu berbeda dengan kapal induk Amerika Serikat yang beroperasi sebagai pusat komando bergerak dengan kemampuan bertahan mandiri.

Balestrieri menilai kondisi tersebut membuat kapal induk China tetap rentan terhadap serangan langsung kapal selam AS. Kapal selam kelas Virginia, misalnya, membawa torpedo Mk48 serta rudal Maritime Strike Tomahawk (MST) yang mampu mengancam kelompok tempur kapal induk.

Laporan China Maritime Studies Institute (CMSI) pada Mei 2024 yang disusun Eli Tirk dan Daniel Salisbury juga menyebut kemampuan ASW udara PLAN masih menghadapi berbagai kendala. Keterbatasan pesawat patroli maritim sayap tetap, pengalaman operator, hingga kualitas pelatihan membuat kemampuan tersebut belum berkembang optimal.

Menurut mereka, latihan ASW China selama bertahun-tahun juga kurang realistis akibat pembatasan administratif yang membatasi operasi di lingkungan laut yang beragam. Meski PLAN terus menghadirkan platform baru, kemajuan pada pemrosesan data sensor dan integrasi persenjataan dinilai masih tertinggal sehingga operasi ASW gabungan berskala besar belum sepenuhnya matang.

Kapal selam siluman AS masih unggul

Kesaksian Andrew Erickson di hadapan US-China Economic and Security Review Commission (USCC) pada Maret 2026 menambahkan tantangan lain bagi PLAN. Ia menilai kemampuan meteorologi dan oseanografi China masih berada di bawah Angkatan Laut AS sehingga membatasi pemahaman medan tempur bawah laut.

Erickson juga menyebut minimnya sensor yang ditempatkan di laut, terbatasnya patroli udara, hingga dukungan logistik yang belum memadai membuat operasi ASW jarak jauh China belum sekuat rivalnya. Kemampuan penanggulangan ranjau laut dan integrasi data secara real-time juga masih menghadapi hambatan koordinasi antarsatuan.

Meski jumlah kapal perang PLAN kini telah melampaui armada AS, Erickson dalam laporan Korea Institute of Maritime Strategy (KIMS) pada Juli 2026 menilai keunggulan kapal selam Amerika masih terletak pada tingkat kesenyapan.

Menurutnya, kapal selam nuklir serang Tipe 093 dan kapal selam rudal balistik Tipe 094 masih menghasilkan jejak akustik lebih besar dibandingkan kapal selam modern AS karena belum menggunakan teknologi pump-jet propulsion dan sistem sirkulasi reaktor alami yang lebih senyap.

Ia mencatat China mulai mempersempit kesenjangan tersebut melalui mesin bergetar rendah dan teknologi dudukan isolasi pneumatik hasil rekayasa balik dari Rusia. Kapal selam Tipe 095 dan Tipe 096 yang sedang dikembangkan diproyeksikan mampu mendekati tingkat kesenyapan kapal selam kelas Improved Akula milik Rusia.

Pertahanan berlapis untuk operasi laut lepas

Tekanan terhadap pertahanan bawah laut China juga datang dari aktivitas kapal selam Amerika Serikat di kawasan. South China Sea Strategic Situation Probing Initiative (SCSPI) melaporkan pada Juni 2026 bahwa sepanjang 2025 AS mengerahkan sedikitnya 11 kapal selam serang bertenaga nuklir dan satu kapal selam rudal jelajah USS Ohio di Laut China Selatan.

Laporan itu menyebut dukungan logistik diberikan melalui kapal tender USS Emory S. Land dan USS Frank Cable yang menopang operasi bawah laut AS di kawasan.

Di saat bersamaan, China juga dilaporkan tengah membangun kapal induk keempat yang diperkirakan menggunakan tenaga nuklir. Kapal tersebut diproyeksikan memungkinkan PLAN beroperasi lebih jauh melampaui Rantai Pulau Pertama yang membentang melalui Jepang, Taiwan, dan Filipina, sehingga kebutuhan akan sistem pertahanan mandiri di laut lepas menjadi semakin besar.

Daniel Rice dalam laporan CMSI pada Juni 2024 menjelaskan kelompok tempur kapal induk China menggunakan tiga lapis pertahanan. Zona terluar sejauh 185-400 kilometer mengandalkan kapal selam dan pesawat tempur J-15, zona tengah pada jarak 45-185 kilometer dijaga kapal perusak Tipe 052D serta fregat Tipe 054A, sedangkan zona terdalam hingga radius 45 kilometer mengandalkan sistem pertahanan terminal.

Dalam skema itu, sistem ATT di Fujianz n diperkirakan akan ditempatkan sebagai lapisan terakhir untuk menghadapi torpedo yang berhasil menembus seluruh cincin pertahanan kapal induk.