Tenaga kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, yang umumnya digunakan untuk menangani penyakit menular seperti Ebola. | WHO

Singapura mengalokasikan bantuan senilai US$2 juta atau sekitar S$2,5 juta untuk memperkuat penanganan wabah Ebola yang masih berlangsung di Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Dana tersebut akan disalurkan melalui Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) dan World Health Organization (WHO) guna mendukung respons darurat di lapangan.

Kementerian Kesehatan Singapura bersama Badan Penyakit Menular dalam pernyataan pada 14 Juli menyebut bantuan itu difokuskan untuk memperkuat pengujian laboratorium, pelacakan kontak, pencegahan dan pengendalian infeksi, serta penanganan pasien.

Kontribusi tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap Continental Preparedness and Response Plan yang diluncurkan Africa CDC dan WHO pada 5 Juni untuk mempercepat penanganan penyebaran Ebola di kawasan Afrika.

WHO menetapkan wabah Ebola saat ini sebagai darurat kesehatan internasional pada 17 Mei. Hingga 12 Juli, data resmi menunjukkan jumlah kasus terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo telah mencapai 1.926 kasus, dengan 702 orang meninggal dunia.

Bantuan dari Singapura akan digunakan untuk mengamankan berbagai kebutuhan medis penting. Mulai dari peralatan diagnostik dan laboratorium guna memperluas kapasitas pengujian serta pelacakan kontak, alat pelindung diri dan perlengkapan pencegahan infeksi bagi tenaga kesehatan, hingga obat-obatan esensial, cairan infus, produk darah, oksigen, serta peralatan perawatan kritis bagi rumah sakit dan unit perawatan pasien.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan situasi di Kongo dan Uganda berkembang sangat cepat sehingga membutuhkan koordinasi internasional yang sigap.

"Kami telah memprioritaskan kontribusi kami untuk mendapatkan pasokan yang tepat ke tempat yang tepat dengan cepat, dan mendukung petugas kesehatan di garis depan," ujar Ong.

Bantuan terbaru ini melanjutkan komitmen Singapura dalam mendukung ketahanan kesehatan global. Pada Mei lalu, Ong mengumumkan negaranya akan menyumbangkan US$12 juta selama empat tahun kepada Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), kemitraan global yang berfokus mengembangkan vaksin yang aman dan efektif dalam waktu 100 hari setelah ancaman pandemi baru teridentifikasi.

Sebelumnya, pada 2024, Singapura juga menyumbang S$24 juta dalam putaran investasi perdana WHO untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat kesehatan. Pada tahun yang sama, negara itu mengirimkan kit diagnostik dan perlengkapan pengujian mpox yang memungkinkan hingga 50.000 tes dilakukan untuk mendukung respons Africa CDC terhadap wabah tersebut.