Deretan bendera negara-negara anggota ASEAN yang berkibar di Bandara Ngurah Rai, Bali. | ANTARA FOTO

Ketegangan perdagangan global, perubahan kebijakan tarif, hingga fragmentasi geopolitik mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis lintas negara. Di tengah kondisi yang serba tidak pasti, negara-negara ASEAN justru dinilai berada dalam posisi yang semakin strategis karena menjadi tujuan baru investasi, manufaktur, dan perdagangan internasional.

Perubahan itu tidak hanya menggeser arus barang, tetapi juga modal dan infrastruktur keuangan. Digitalisasi sistem keuangan serta munculnya koridor perdagangan baru membuat perusahaan, lembaga keuangan, dan investor harus menyesuaikan strategi agar tetap mampu bersaing.

Menurut Standard Chartered, tantangan terbesar bagi pelaku usaha saat ini bukan semata besaran tarif, melainkan ketidakpastian arah kebijakan perdagangan. Kondisi tersebut mendorong banyak perusahaan menata ulang rantai pasok, strategi persediaan, hingga lokasi produksi demi memperoleh kepastian operasional yang lebih baik.

Arus perdagangan dan investasi lintas negara disebut masih tetap kuat. Bedanya, jalur yang dilalui kini semakin beragam seiring perusahaan lebih mengutamakan kepastian pengiriman dibanding sekadar biaya produksi yang murah.

Peta perdagangan global bergeser

Perubahan itu memunculkan sejumlah koridor ekonomi baru di berbagai kawasan. Aktivitas perdagangan dan investasi tercatat meningkat antara Tiongkok dan Asia Selatan, India dan Timur Tengah, Eropa dan India, hingga di antara negara-negara ASEAN sendiri.

Koridor perdagangan Selatan-Selatan kini juga semakin penting, melengkapi jalur perdagangan tradisional Timur-Barat yang selama ini mendominasi ekonomi global.

ASEAN dinilai memiliki posisi yang menguntungkan karena berada di persimpangan sejumlah jalur perdagangan dan investasi paling dinamis di dunia. Ketika perusahaan global mendiversifikasi basis manufaktur dan investor mencari pasar dengan pertumbuhan tinggi, kawasan ini semakin mengukuhkan perannya sebagai pusat produksi sekaligus penghubung perdagangan internasional.

Dalam konteks tersebut, Singapura disebut memainkan peran yang semakin besar sebagai pusat koordinasi perdagangan regional, likuiditas, dan manajemen risiko. Negara itu juga berkembang menjadi gerbang utama yang menghubungkan ASEAN dengan Tiongkok, India, Timur Tengah, serta investor global.

Konektivitas jadi nilai tambah

Standard Chartered menilai konektivitas kini menjadi salah satu keunggulan kompetitif paling penting. Perusahaan membutuhkan layanan keuangan yang mampu mengintegrasikan pembiayaan, perbendaharaan, pembayaran, hingga pengelolaan risiko di berbagai yurisdiksi dan mata uang.

Bank tersebut mengatakan model koridor yang mereka jalankan memungkinkan Standard Chartered berperan sebagai super-connector yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Timur Tengah melalui jaringan perbankan internasionalnya.

"Super-connector," demikian istilah yang digunakan Standard Chartered untuk menggambarkan perannya dalam menghubungkan arus modal dengan berbagai peluang investasi di sejumlah kawasan.

Model tersebut juga digunakan untuk mendukung investasi global ke Asia Tenggara, memfasilitasi perdagangan berbasis renminbi (RMB), serta membantu perusahaan multinasional mengelola pendanaan dan risiko di berbagai negara.

Ketidakpastian global turut mengubah cara perusahaan memandang manajemen risiko. Fungsi tersebut kini tidak lagi dianggap sekadar aktivitas rutin bagian perbendaharaan, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis.

Perusahaan semakin fokus memperkuat likuiditas, memperluas sumber pendanaan, serta mengelola eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar, suku bunga, dan harga komoditas.

Langkah-langkah itu dipandang penting untuk menjaga ketahanan keuangan perusahaan ketika volatilitas pasar berlangsung lebih lama dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Singapura dorong era keuangan digital

Perubahan besar lainnya terjadi di sektor keuangan digital. Di kawasan ASEAN, tokenisasi aset dunia nyata mulai bergeser dari tahap uji coba menuju penerapan yang lebih luas.

Singapura menjadi salah satu negara terdepan berkat posisinya sebagai pusat perdagangan global, dukungan regulasi yang dinilai progresif, serta kolaborasi antara regulator dan pelaku industri

Standard Chartered menyoroti sejumlah inisiatif Monetary Authority of Singapore (MAS), termasuk Project Guardian dan inisiatif Bloom (borderless, liquid, open, online and multicurrency), yang dirancang untuk mempercepat penerapan tokenisasi dalam sistem keuangan.

Bank tersebut menilai tokenisasi berpotensi meningkatkan efisiensi, transparansi, dan ketahanan sistem keuangan melalui penyelesaian transaksi secara real-time, optimalisasi likuiditas, serta otomatisasi berbagai proses menggunakan aset yang dapat diprogram.

Salah satu penerapannya mulai terlihat pada penggunaan deposito dan saldo rekening yang ditokenisasi untuk mendukung pengelolaan kas dan likuiditas secara real-time

Menurut Standard Chartered, aset digital diperkirakan akan berkembang berdampingan dengan sistem keuangan konvensional, sehingga perusahaan perlu bersiap menghadapi ekosistem yang menggabungkan uang fiat dan aset digital.