Pemandangan Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan laut paling strategis dan tersibuk di dunia, yang terletak di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Lebih dari 23 juta barel minyak mengalir setiap hari melalui Selat Malaka pada semester pertama 2025, menjadikan perairan sempit antara Malaysia dan Indonesia itu jalur transit minyak tersibuk di planet ini. Angka tersebut, menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), setara 29% dari seluruh perdagangan minyak lewat laut di dunia.

Total volume yang melintasi Malaka mencapai 23,2 juta barel per hari. Dari jumlah itu, minyak mentah dan kondensat mendominasi dengan 16,6 juta barel per hari, produk olahan seperti solar dan avtur menyumbang 6,5 juta barel per hari, sementara aliran LNG menembus 9,2 miliar kaki kubik per hari. 

Rute yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik ini menjadi jalur terpendek dari Asia Barat menuju pasar-pasar utama di Asia Timur dan Asia Tenggara. Cina sendiri menyerap sekitar 48% dari total impor minyak yang melintasi selat tersebut.

Hormuz tetap jadi titik paling rawan

Di posisi kedua, Selat Hormuz mencatat volume 20,9 juta barel per hari, terdiri atas 15 juta barel minyak mentah dan kondensat ditambah 5,5 juta barel produk olahan. 

Meski volumenya lebih kecil dari Malaka, Hormuz dianggap chokepoint paling kritis secara geopolitik karena minim rute alternatif. Sekitar 84% minyak mentah yang melewati selat antara Oman dan Iran itu berakhir di pasar Asia, mencakup Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Peran Hormuz makin krusial bila LNG ikut dihitung. Qatar, eksportir LNG terbesar kedua dunia, mengapalkan lebih dari 112 miliar meter kubik LNG sepanjang 2025, dan 93% di antaranya melintasi Hormuz. Uni Emirat Arab menambah 7 miliar meter kubik dengan 96% melalui jalur yang sama. Praktis, seperlima perdagangan LNG dunia bergantung pada satu selat ini, dengan 83% kargo mengarah ke Asia.

Gangguan pun sempat terjadi. Pada kuartal pertama 2026, arus minyak dan cairan petroleum melalui Hormuz anjlok hampir 30% dibanding tahun sebelumnya, turun menjadi 14,6 juta barel per hari akibat konflik yang melibatkan Iran. Penurunan itu setara nyaris enam juta barel per hari dari posisi 20,4 juta barel setahun sebelumnya, dan 20,7 juta barel pada kuartal keempat 2025.

Enam jalur lain ikut menopang pasokan dunia

Di luar dua raksasa tersebut, EIA mencatat sejumlah chokepoint lain dengan volume lebih kecil namun tetap strategis. Terusan Suez bersama Pipa SUMED menampung 4,9 juta barel per hari, sama persis dengan volume yang melintasi Selat Denmark. Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah, mencatat 4,2 juta barel per hari.

Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, yang selama ini berfungsi sebagai rute pelarian kapal tanker saat Laut Merah tak aman, justru mencatat lonjakan volume menjadi 9,1 juta barel per hari. Sementara itu Selat Turki atau Dardanella menangani 3,7 juta barel per hari, dan Terusan Panama di ujung rantai distribusi mencatat 2,3 juta barel per hari, volume terkecil di antara delapan chokepoint utama dunia.


Secara keseluruhan, permintaan minyak dunia rata-rata mencapai 104,4 juta barel per hari pada semester pertama 2025, dengan 79,8 juta barel di antaranya diperdagangkan lewat laut. 

Sekitar 70% dari total permintaan minyak global dan lebih dari 90% perdagangan minyak lewat laut melintasi tujuh chokepoint maritim utama plus Tanjung Harapan sebagai rute cadangan.

Ketergantungan pada jalur-jalur sempit inilah yang membuat pasar energi dunia mudah terguncang setiap kali ada gejolak di salah satu titiknya, seperti yang terjadi di Hormuz awal 2026.