APLUSWIRE/Larissa Meidiana

Indonesia resmi menghimpun dana 7 miliar yuan atau sekitar US$1,03 miliar melalui penerbitan obligasi berdenominasi yuan di pasar domestik China pada Kamis (23/7). Ini menjadi penerbitan obligasi panda bond pertama Indonesia di pasar onshore China sekaligus langkah pemerintah memperluas sumber pembiayaan di luar dolar AS.

Minat investor tergolong tinggi. Kementerian Keuangan mencatat nilai permintaan mencapai 2,4 kali lipat dari jumlah obligasi yang ditawarkan, memberi sinyal kuatnya respons pasar terhadap surat utang perdana Indonesia tersebut.

Penerbitan terbagi dalam dua seri. Obligasi tenor tiga tahun diterbitkan senilai 5,6 miliar yuan dengan imbal hasil 1,9%, sedangkan obligasi tenor lima tahun bernilai 1,4 miliar yuan dengan imbal hasil 2,19%, sebagaimana dilaporkan Jakarta Globe.

Pemerintah semula menargetkan transaksi ini berlangsung pada awal Juli. Jadwal kemudian digeser ke akhir bulan setelah proses pemasaran mendapat respons positif dari investor di China.

Dana yang diperoleh akan digunakan untuk menutup sebagian defisit anggaran negara sekaligus mendukung kebutuhan belanja pemerintah, menurut Kementerian Keuangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah memang sengaja membatasi nilai penerbitan perdana agar pasar lebih dulu mengenal surat utang Indonesia.

"Ini adalah pasar baru. Jika diperlukan, kami akan menerbitkan dalam jumlah yang lebih besar," ujar Purbaya menjelang pelaksanaan penjualan obligasi.

Ia juga mengindikasikan pemerintah dapat kembali menawarkan obligasi berdenominasi yuan dalam beberapa bulan mendatang apabila minat investor tetap kuat.

Bank of China bertindak sebagai lead underwriter sekaligus lead bookrunner. Sementara itu, ICBC, CITIC Securities, China International Capital Corporation, dan DBS Bank China ditunjuk sebagai joint lead underwriter dan bookrunner, menurut Reuters. Agricultural Bank of China, China Construction Bank, serta Export-Import Bank of China berperan sebagai co-manager.

Sebelum penerbitan berlangsung, lembaga pemeringkat China Lianhe Rating pada 1 Juli memberikan peringkat AAA dengan outlook stabil untuk obligasi tersebut.

Penerbitan ini menambah daftar negara dan perusahaan asing yang memanfaatkan pasar obligasi domestik China, seiring dorongan Beijing memperluas penggunaan yuan dalam transaksi dan pembiayaan internasional. 

Bagi Indonesia, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pendanaan di tengah volatilitas mata uang global dan perubahan lanskap perdagangan internasional.