Logo Bank Indonesia. | APLUSWIRE/LARISSA MEIDIANA
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk bertindak "habis-habisan" dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan penguatan dolar Amerika Serikat yang masih membayangi pasar keuangan Asia. 

Sikap agresif itu ditempuh setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sejak konflik AS-Iran pecah, disertai kembalinya arus modal asing pada kuartal II 2026.

Tekanan terhadap rupiah meningkat akibat kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Kondisi tersebut juga membebani sejumlah mata uang Asia Tenggara lainnya, termasuk ringgit Malaysia.

Rupiah sempat menyentuh rekor terendah sekitar Rp18.190 per dolar AS pada 9 Juni. Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia menggelar rapat di luar jadwal dan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. 

Delapan hari berselang, tepatnya 18 Juni, bank sentral kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 5,75%, sehingga total pengetatan sejak awal konflik AS-Iran mencapai 100 basis poin.

Arus modal asing berbalik masuk

Di hadapan anggota parlemen pada 7 Juli, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan kondisi pasar mulai membaik setelah arus modal asing kembali masuk pada kuartal II.

"Habis-habisan," ujar Perry saat menegaskan komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.

Menurut Perry, arus modal asing mencapai US$7,98 miliar pada kuartal II setelah sebelumnya terjadi arus keluar sebesar US$1,47 miliar pada kuartal I. Cadangan devisa Indonesia juga meningkat tipis menjadi US$145,6 miliar pada akhir Juni, dibandingkan US$144,9 miliar pada Mei.

Data yang dikutip Bloomberg menunjukkan aliran dana asing ke obligasi pemerintah berdenominasi rupiah pada Juni mencapai level tertinggi dalam 13 bulan. Imbal hasil yang tinggi dinilai menjadi daya tarik utama bagi investor global.

Ringgit juga tertekan

Tekanan dolar tidak hanya dirasakan Indonesia. Ringgit Malaysia menjadi mata uang Asia dengan kinerja terburuk sepanjang Juni setelah melemah dari posisi 3,8847 per dolar AS pada Februari hingga menyentuh 4,1349 pada 24 Juni akibat perpindahan dana investor ke aset safe haven.

Pada Rabu (8/7), ringgit kembali melemah terhadap dolar AS ke kisaran 4,0750/4,0800, meski masih menguat terhadap sejumlah mata uang utama dan regional lainnya.

Bank Negara Malaysia melaporkan cadangan devisa internasional meningkat menjadi US$132,6 miliar per 30 Juni, tertinggi dalam 12 tahun, naik dari US$130,5 miliar dua pekan sebelumnya. Peningkatan itu didukung aliran modal asing ke pasar obligasi domestik.

Cadangan tersebut setara dengan 4,7 bulan impor dan 0,9 kali total utang luar negeri jangka pendek. Analis Royal Bank of Canada dan ANZ memperkirakan ringgit dapat menguat ke kisaran 3,80-3,95 per dolar AS pada akhir tahun seiring mulai efektifnya kebijakan repatriasi pendapatan dari luar negeri.

Efek kebijakan The Fed

Penguatan dolar semakin terasa setelah pertemuan Federal Open Market Committee pada 18 Juni. Menurut MUFG, pelaku pasar kini sepenuhnya memperkirakan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.

Sebagian besar mata uang Asia kembali melemah pada 8 Juli. Rupee India dan baht Thailand memimpin pelemahan, sementara dolar Taiwan menembus level 32 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan. Di Hong Kong, cadangan devisa bertahan di US$445,9 miliar.

East Asia Forum menilai langkah pengetatan moneter agresif Bank Indonesia mencerminkan besarnya biaya yang harus ditanggung ketika kebijakan moneter dipaksa berfokus menjaga stabilitas nilai tukar. Kondisi itu membuat bank sentral harus mengurangi ruang untuk menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang masih berlangsung.