![]() |
| Orang-orang mengambil bagian dalam protes nasional terhadap pusat data Sabtu di Atlanta, Ga. |
Gelombang penolakan terhadap pembangunan pusat data untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) semakin meluas di Amerika Serikat, Kanada, dan India. Warga di berbagai daerah mempersoalkan besarnya kebutuhan listrik, air, serta dampak lingkungan dari proyek-proyek berskala besar yang terus bertambah di tengah perlombaan perusahaan teknologi membangun infrastruktur AI.
Di Amerika Serikat, penolakan masyarakat telah menghambat puluhan proyek baru. Di Kanada, pemerintah menghadapi lonjakan usulan pembangunan pusat data yang berpotensi melampaui kapasitas jaringan listrik saat ini. Sementara di India, rencana pembangunan fasilitas milik Amazon memantik aksi protes warga karena dinilai berisiko terhadap lingkungan sekitar.
Di Chester County, South Carolina, dewan kabupaten pada 18 Juni menyetujui pembacaan pertama moratorium selama enam bulan terhadap pembangunan pusat data. Kebijakan itu menghentikan sementara proses pengecualian khusus, peninjauan pengembangan lahan, serta dengar pendapat yang berkaitan dengan proyek-proyek baru.
Langkah tersebut mengikuti dinamika serupa di Chester County, Pennsylvania. Di wilayah itu, penolakan warga yang terorganisasi telah memblokir atau memperlambat sejumlah proyek selama berbulan-bulan.
Studi Data Center Watch yang dibagikan kepada NBC News mencatat sedikitnya 75 proyek pusat data senilai sekitar US$130 miliar berhasil diblokir atau ditunda hanya pada kuartal pertama 2026. Angka itu menjadi yang tertinggi untuk periode tiga bulan sejak pemantauan dimulai pada 2023.
Penolakan publik juga tergolong tinggi. Sebuah jajak pendapat menunjukkan 68% warga Pennsylvania tidak mendukung pembangunan pusat data AI di komunitas mereka.
Di Kanada, dokumen internal pemerintah yang dikutip CBC mengungkapkan lebih dari 20 gigawatt kapasitas pusat data AI sedang berada dalam tahap perencanaan atau pengembangan. Sebagai perbandingan, kapasitas pusat data yang saat ini beroperasi di negara tersebut baru mencapai 337 megawatt.
Sekitar 90% proyek yang diusulkan berada di Provinsi Alberta. Meta pada 8 Juli mengumumkan investasi senilai C$13 miliar untuk membangun pusat data berkapasitas 1 gigawatt di Sturgeon County, yang akan menjadi fasilitas pertamanya di Kanada.
Pemerintah Alberta sebelumnya telah mengesahkan aturan pada akhir 2025 yang mengenakan pungutan baru kepada pusat data dengan kebutuhan listrik 75 megawatt atau lebih. Kebijakan itu ditujukan agar biaya tambahan tidak dibebankan kepada pelanggan rumah tangga.
Operator Sistem Kelistrikan Alberta melaporkan permintaan beban dari pusat data telah melampaui 20.000 megawatt, jauh di atas puncak kebutuhan jaringan listrik provinsi yang saat ini berada di kisaran 12.000 megawatt.
Penolakan serupa muncul di India. Beberapa ratus warga di Thane menggelar aksi pada Sabtu untuk menolak rencana pembangunan pusat data Amazon seluas 53 hektar di kawasan Balkum.
Mereka membentuk rantai manusia dan membawa spanduk yang menyoroti kekhawatiran terhadap konsumsi air, polusi suara, serta potensi dampak lingkungan dari proyek tersebut.
Amazon membantah tudingan itu. Perusahaan menyatakan fasilitas yang direncanakan telah memenuhi seluruh persetujuan hukum yang berlaku. Amazon juga menegaskan pusat datanya di India tidak menggunakan air minum untuk sistem pendingin serta telah mencapai status "positif air" di negara tersebut.

0Komentar