![]() |
| APLUSWIRE/Robin Santoso |
Ukraina mungkin akan segera membeli suku cadang drone China dengan dana UE, sebuah kesepakatan yang akan menguji hubungan Beijing-Moskow
Financial Times pada 15 Juli melaporkan rencana Ukraina memanfaatkan dana bantuan Uni Eropa senilai €6 miliar. Menurut sumber surat kabar tersebut, Kyiv telah memperoleh alokasi untuk sebagian dari pendanaan itu guna membeli komponen drone dari Tiongkok, menyusul pencairan tahap pertama sebesar €1 miliar.
Presiden Volodymyr Zelensky berambisi menggandakan produksi tahunan hingga 20 juta unit. Tanpa infrastruktur industri yang memadai di UE maupun Ukraina, ketergantungan pada kapasitas manufaktur Tiongkok menjadi jalan keluar mutlak.
Ketergantungan ini berlangsung sejak musim panas 2023, mantan wakil menteri pertahanan Ukraina mengakui sukarelawan telah memborong perangkat drone dari negeri tersebut.
Jejak komponen di garis depan
Data The New York Times menunjukkan pergeseran tren pengadaan. Laporan mereka awal tahun ini mencatat, pada tahun 2024, sebagian besar drone yang dikirim Ukraina ke garis depan dirakit di dalam negeri - tetapi masih hampir seluruhnya dengan komponen China. Namun, setahun kemudian, pangsa suku cadang dari China dalam drone Ukraina telah turun menjadi sekitar 38%.
Keterbatasan anggaran menjadi faktor penentu di lapangan. Ukraina masih membeli komponen China yang lebih murah karena militer Ukraina membutuhkan drone dalam jumlah besar dan memiliki anggaran terbatas untuk membelinya, tutur seorang pejabat Ukraina yang meminta anonimitas untuk membahas masalah pengadaan sensitif. Menurutnya, perusahaan Ukraina dan Rusia sering kali membeli suku cadang dari pabrik yang sama di China.
Geopolitik di balik suku cadang
Hubungan Beijing dan Moskwa kerap disalahpahami sebagai aliansi erat. Padahal, Moskwa selama puluhan tahun justru mempersenjatai India dan Vietnam sebagai bagian dari strategi penyeimbangan regional terhadap Tiongkok.
Bagi Beijing, konflik berkepanjangan di Ukraina memiliki nilai strategis. Tiongkok diuntungkan jika Rusia melemah hingga menjadi mitra junior, bukan lagi kekuatan yang setara.
Situasi ini memantik spekulasi baru terkait lawatan Donald Trump ke Beijing. Xi Jinping dikabarkan mengusung visi stabilitas strategis konstruktif dengan Amerika Serikat.
Potensi Tiongkok memasok suku cadang Ukraina melalui dana UE bisa saja menjadi bagian dari quid pro quo untuk menghindari tarif perdagangan. Langkah ini memberi Beijing kartu truf untuk menekan Rusia sekaligus meredam perselisihan perbatasan dengan India.
Pada akhirnya, intensifikasi perang gesekan AS melawan Rusia kini bergantung pada sikap Beijing. Tiongkok dihadapkan pada pilihan sulit antara membantu Ukraina demi keuntungan ekonomi serta détente, atau menolak langkah tersebut demi menjaga solidaritas dengan Rusia.
Penjualan drone Tiongkok ke Ukraina secara tidak langsung akan mengganggu keseimbangan regional, berbeda dengan penjualan senjata Rusia ke India dan Vietnam yang selama ini dianggap menjaga status quo kawasan.

0Komentar