APLUSWIRE/ROBIN SANTISO
Jumlah korban militer dari kedua belah pihak dalam perang Rusia-Ukraina telah menembus angka 2 juta jiwa sejak invasi skala penuh Rusia ke wilayah tetangganya pada Februari 2022. Angka ini terungkap dari studi terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Selasa lalu, menjadikan konflik ini sebagai salah satu yang paling mematikan bagi kekuatan besar dunia sejak Perang Dunia II.

Studi yang disusun analis CSIS, Seth G. Jones dan Riley McCabe, itu menyebut skala korban jiwa dalam perang ini sebagai sesuatu yang mencengangkan dan tak memiliki preseden serupa di era modern.

Rusia tanggung korban terbesar dalam perang

Rusia mencatat beban korban paling berat. CSIS memperkirakan pasukan Moskwa kehilangan sekitar 1,4 juta prajurit, baik tewas, terluka, maupun hilang, sejak Februari 2022 hingga Juni 2026. Dari jumlah itu, sekitar 400.000 hingga 450.000 orang di antaranya tewas di medan tempur.

Korban militer Rusia jauh lampaui Ukraina

Estimasi total korban dan kematian, Februari 2022–Juni 2026
Sumber: Center for Strategic and International Studies (CSIS), 2026. Angka Ukraina dan rincian kematian menggunakan titik tengah rentang estimasi.

Angka kematian tersebut empat kali lipat lebih tinggi dibanding total korban jiwa militer AS dari seluruh perang yang diikuti Washington sejak Perang Dunia II. Bila dibandingkan dengan catatan Uni Soviet dan Rusia sendiri, jumlahnya bahkan sembilan kali lebih besar dari total korban jiwa dalam semua konflik yang pernah mereka jalani sepanjang periode yang sama.

Tekanan di lapangan pun mulai terasa bagi Kremlin. Laporan itu mencatat tingkat korban bulanan Rusia sepanjang 2026 berkisar 30.000 hingga 34.000 jiwa, jumlah yang melampaui laju rekrutmen prajurit baru mereka yang hanya sekitar 27.000 orang per bulan. Kesenjangan ini menandakan Rusia kian kesulitan mengganti pasukan yang gugur atau cedera secepat mereka kehilangannya.

Rasio korban antara Rusia dan Ukraina turut melebar tajam. Pada paruh pertama 2026, rasionya mencapai hampir 8 banding 1, jauh meningkat dari kisaran 2 banding 1 hingga 3 banding 1 yang bertahan sepanjang sebagian besar masa perang. 

Rasio korban Rusia melonjak tajam

Perbandingan korban Rusia terhadap satu korban Ukraina
Sumber: Center for Strategic and International Studies (CSIS), 2026. Rasio 2022–2025 merupakan kisaran rata-rata sepanjang periode tersebut.

CSIS menilai lonjakan ini banyak dipicu oleh penggunaan drone bertenaga AI oleh pasukan Ukraina di garis depan.

Kerugian Ukraina tetap berat

Di sisi Ukraina, jumlah korban tercatat antara 525.000 hingga 625.000 jiwa, dengan 125.000 hingga 150.000 orang di antaranya tewas dalam rentang waktu yang sama. Meski jauh lebih kecil dari catatan Rusia, kerugian ini tetap memukul keras mengingat jumlah penduduk Ukraina yang jauh lebih sedikit dibanding Rusia.

Di lapangan, momentum pertempuran juga mulai bergeser. Wilayah yang dikuasai Rusia di Ukraina justru menyusut pada musim semi 2026, dengan kerugian bersih sekitar 400 kilometer persegi selama April dan Mei, penurunan bulanan pertama sejak Agustus 2024. 

Laju maju pasukan Rusia melambat drastis, hanya 50 hingga 90 meter per hari di sepanjang garis depan paling aktif, kecepatan yang disebut CSIS sebanding dengan Pertempuran Somme pada Perang Dunia I.

Barat didesak perketat sanksi ke Rusia

Meski biaya perang terus membengkak, laporan CSIS memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin belum menunjukkan tanda akan melunak di hadapan publik. 

Studi ini menilai kondisi di lapangan sangat menguntungkan pihak yang bertahan, sehingga mampu menggagalkan serangan Rusia namun sekaligus membatasi ruang gerak Ukraina untuk melancarkan serangan balik.

Para peneliti CSIS menyebut momen saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melancarkan kampanye tekanan terhadap perekonomian Rusia. Mereka mendesak Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memperketat penegakan sanksi sekaligus meningkatkan bantuan militer bagi Ukraina.

"Ironi pahit dari perang Ukraina adalah bahwa meski Rusia menghadapi kesulitan di medan perang dan kerentanan ekonomi, Amerika Serikat dan Eropa gagal memanfaatkan tekanan ekonomi maupun militer secara penuh," demikian pernyataan dalam laporan tersebut.