![]() |
| Seorang pekerja memuat tandan buah segar untuk didistribusikan dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Kabupaten Kampar di provinsi Riau, Indonesia, Selasa (26/4/2022). | REUTERS/WILLY KUENIAWAN |
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut hilirisasi tiga komoditas unggulan, yaitu kelapa sawit, kelapa, dan gambir, berpotensi mendatangkan nilai tambah hingga Rp35.000 triliun. Angka itu diklaim setara dengan anggaran pendapatan dan belanja negara selama satu dekade.
"Itu baru sawit, kelapa dengan gambir, Rp35.000 triliun. Itu sama dengan 10 tahun APBN. Itu mimpi besar Bapak Presiden," ujar Amran dalam acara Pemilihan Ketua Umum Persatuan Wredatama Pertanian Masa Bhakti 2026-2931 di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (30/6).
Amran menjelaskan potensi tersebut muncul dari pengolahan komoditas di dalam negeri, bukan lagi sekadar ekspor bahan mentah. Ia menilai skema hilirisasi bisa mendorong lahirnya produk bernilai tambah tinggi yang selama ini justru dinikmati industri di negara lain.
Sawit menjadi komoditas pertama yang disorot. Amran mengungkapkan nilai ekspor crude palm oil saat ini berkisar Rp1.000 triliun, namun angka tersebut dinilai bisa melonjak drastis lewat hilirisasi penuh.
"Kali 10 saja kita hilirisasi CPO semua, itu bisa menghasilkan kali 10, Rp10.000 triliun CPO saja. Belum termasuk dalam negeri, hanya ekspor," ujarnya.
Posisi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia turut menjadi modal utama dalam narasi Amran. Ia menyebut komoditas ini sebagai salah satu instrumen ekonomi paling strategis yang dimiliki Indonesia saat ini.
"Ini senjata yang paling bagus untuk ekonomi untuk dunia. Baru CPO kita pegang dan kita nomor satu dunia," katanya.
Selain sawit, kelapa juga disebut menyimpan peluang besar seiring bergesernya tren konsumsi global dari susu sapi ke produk berbasis kelapa seperti coconut milk dan virgin coconut oil. Amran menyebut pengolahan di dalam negeri bisa mengerek nilai produk kelapa hingga puluhan kali lipat dibanding menjual bahan mentah.
"Kalau kita olah naik 100 kali lipat. Ini baru satu belum yang lain di bawah. Kalau Rp24 triliun dikali 100 itu Rp2.400 triliun," ujarnya.
Produk turunan air kelapa turut disinggung Amran sebagai segmen yang belum tergarap maksimal, meski Indonesia termasuk produsen kelapa terbesar dunia.
Gambir menjadi komoditas ketiga yang disebut Amran. Indonesia menguasai sekitar 80% produksi gambir dunia, sementara produk turunannya seperti tinta, sabun, dan sampo memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding gambir mentah.
Amran mengklaim teknologi pengolahan untuk ketiga komoditas itu sudah tersedia di dalam negeri. Pemerintah, menurutnya, mulai membangun fasilitas hilirisasi di beberapa wilayah, termasuk Maluku Utara, Morowali, dan Riau.
Minat investor terhadap proyek hilirisasi komoditas pertanian juga disebut terus bertambah, dengan sejumlah pihak mulai menjajaki peluang investasi di sektor tersebut.
"Kalau itu terjadi, itu kita goyangkan, kita getarkan dunia. Bukan Asia Tenggara, dunia akan bergetar karena kita berada di garis khatulistiwa," ujar Amran.
0Komentar