![]() |
| APLISWIRE/Robin Santoso |
Belanja militer dunia kembali mencetak rekor tertinggi. Laporan tahunan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis pada April 2026 mencatat total pengeluaran pertahanan global sepanjang 2025 mencapai US$ 2,887 triliun atau sekitar Rp 46.000 triliun, memperpanjang tren kenaikan selama 11 tahun berturut-turut.
Kenaikan itu didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa, percepatan modernisasi militer di Asia, serta penguatan kapasitas pertahanan negara-negara NATO.
Amerika Serikat masih menjadi negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, sementara sejumlah negara Eropa mencatat lonjakan belanja paling tajam sejak Perang Dingin.
10 Negara dengan belanja militer terbesar (2026)
Berdasarkan Data Tahunan SIPRI
Di balik dominasi AS, terdapat perubahan yang mencolok. Jerman melonjak ke peringkat keempat dunia setelah meningkatkan anggaran pertahanannya 24% dibanding tahun sebelumnya sebagai bagian dari program modernisasi pasca-invasi Rusia ke Ukraina.
Ukraina juga memperlihatkan gambaran berbeda. Secara nominal negara itu berada di peringkat ketujuh dengan anggaran US$ 84,1 miliar, tetapi beban ekonominya menjadi yang terbesar di dunia karena sekitar 40% produk domestik bruto (PDB) dialokasikan untuk kebutuhan pertahanan. Rusia pun mencatat beban militer tinggi dengan belanja setara 7,5% PDB.
Jepang ikut mempercepat penguatan pertahanan. Negeri Sakura mengesahkan anggaran militer terbesar sepanjang sejarahnya sebagai bagian dari target menaikkan belanja pertahanan menuju 2% PDB di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Anggaran belanja militer Asia Tenggara
Peta pertahanan Asia Tenggara menunjukkan dinamika yang berbeda. Negara dengan anggaran militer terbesar bukanlah pemilik peringkat kekuatan militer tertinggi.
Berdasarkan Global Firepower Index (GFP) 2026, Indonesia kembali menempati posisi pertama di ASEAN sekaligus peringkat ke-13 dunia. Singapura berada jauh di bawah dalam peringkat GFP, meski memiliki anggaran pertahanan terbesar di kawasan.
Estimasi anggaran pertahanan ASEAN (2026)
Dalam Miliar USD
Pemerintah Indonesia mengalokasikan sekitar Rp 187,1 triliun atau setara US$ 15 miliar untuk Kementerian Pertahanan pada 2026. Anggaran tersebut digunakan untuk melanjutkan modernisasi alat utama sistem persenjataan, termasuk pengiriman jet tempur Dassault Rafale, pengembangan KF-21 Boramae, pembangunan fregat Merah Putih, serta kapal selam Scorpène.
Di sisi lain, Singapura menganggarkan sekitar SGD 24,93 miliar atau sekitar US$ 19,5 miliar. Dana itu difokuskan pada penguatan teknologi pertahanan, mulai dari jet tempur generasi kelima, pesawat patroli maritim Boeing P-8A Poseidon, hingga pengembangan sistem persenjataan otonom.
Perbedaan tersebut mencerminkan strategi pertahanan yang berbeda. Indonesia mengandalkan luas wilayah, jumlah personel, dan kemampuan menjaga jalur laut strategis, sedangkan Singapura menitikberatkan keunggulan teknologi dan kemampuan serangan presisi.
Vietnam dan Filipina juga terus meningkatkan kesiapan militernya seiring memanasnya situasi di Laut China Selatan. Vietnam memperkuat pertahanan pesisir dan kekuatan personel, sementara Filipina mengalihkan fokus modernisasi dari operasi darat menuju pengamanan wilayah maritim.

0Komentar