![]() |
| Aplikasi Yuan Digital (e-CNY) yang dikembangkan oleh Bank Rakyat Tiongkok. |
Survei terbaru yang ditugaskan HSBC menunjukkan mayoritas investor kini tidak lagi menghadapi kendala untuk mengakses pasar yuan, melainkan mulai berfokus pada pengelolaan investasi dalam skala yang lebih besar.
Jajak pendapat yang dilakukan secara independen oleh FinanceAsia pada Maret hingga awal Mei 2026 itu melibatkan lebih dari 120 investor institusional di 12 pasar dengan total aset kelolaan melampaui US$32 triliun. Hasilnya, 87% responden menyatakan telah memiliki akses ke pasar renminbi (RMB).
Sebanyak 63% responden memilih pasar RMB offshore sebagai jalur utama untuk berinvestasi, sedangkan 54% memanfaatkan skema Connect seperti Bond Connect dan Stock Connect. Tiga dari empat investor juga memperkirakan penggunaan RMB untuk kebutuhan investasi akan terus meningkat dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.
Diversifikasi jadi pertimbangan terbesar
Keinginan memperluas diversifikasi aset menjadi alasan paling dominan di balik meningkatnya alokasi investasi dalam yuan. Sebanyak 66% responden menyebut faktor tersebut sebagai pendorong utama.
Selain diversifikasi, 54% investor menilai besarnya peran China dalam perdagangan global menjadi daya tarik tersendiri. Adapun 40% responden melihat peluang imbal hasil yang kompetitif sebagai alasan untuk menambah eksposur terhadap aset berdenominasi yuan.
Perkembangan pangsa China dalam perdagangan global
Pangsa ekspor China terhadap total ekspor dunia, 1995-2025
i
Klik atau arahkan kursor ke titik grafik untuk melihat detail
Sumber: ChinaPower Project (CSIS), Statista/WTO
Perubahan fokus investor juga disoroti HSBC. Menurut Kepala Macro Trading Asia sekaligus Kepala Markets and Securities Services Hong Kong HSBC, Cheuk Wong, tantangan saat ini bukan lagi membuka akses ke pasar RMB.
"Yang berubah dalam beberapa tahun terakhir adalah bahwa akses pasar RMB bukan lagi soal cara masuk; melainkan soal apakah investor dapat beroperasi secara lancar dalam skala besar," ujar Wong.
Hong Kong lerluas ekosistem yuan internasional
Penguatan penggunaan yuan turut dibarengi langkah Hong Kong memperbesar perannya sebagai pusat mata uang yuan offshore. Sekretaris Keuangan Hong Kong Paul Chan Mo-po mengatakan pemerintah akan meningkatkan upaya mendorong penggunaan yuan lepas pantai untuk perdagangan, investasi, dan pembiayaan.
Pemerintah Hong Kong juga berencana meluncurkan kontrak berjangka (futures) Obligasi Pemerintah China bertenor lima tahun pada Agustus 2026. Instrumen tersebut disiapkan untuk memperluas pilihan manajemen risiko bagi investor internasional.
Survei HSBC turut mencatat jalur investasi berbasis RMB diperkirakan tumbuh paling pesat pada koridor China-ASEAN, yang dipilih oleh 93% responden. Jalur Asia-Timur Tengah menyusul dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 81%.
De-dolarisasi makin menguat
Menguatnya minat terhadap yuan terjadi bersamaan dengan semakin banyaknya inisiatif penggunaan mata uang lokal di berbagai negara.
Menurut Nikkei Asia yang dikutip Moneycontrol, India dan Jepang tengah memajukan kerangka penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal yang memungkinkan transaksi langsung antara yen dan rupee India.
Di Indonesia, Bank Indonesia mulai 1 Juli 2026 menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung dari US$25.000 menjadi US$10.000 per orang setiap bulan. Kebijakan itu merupakan bagian dari langkah menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.
Pengetatan batas pembelian dolar
Batas pembelian valuta asing tunai tanpa underlying oleh Bank Indonesia, per orang per bulan (2026)
i
Klik atau arahkan kursor ke titik grafik untuk melihat detail
Sumber: Bank Indonesia (PADG No.11/2026)
Dalam dua bulan pertama 2026, volume transaksi mata uang lokal Indonesia tercatat melonjak 163% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Survei terpisah HSBC Reserve Management Trends 2026 terhadap 101 bank sentral juga mencerminkan tren serupa. Sebanyak 69,1% manajer cadangan devisa memperkirakan diversifikasi global akan semakin cepat pada 2026, meningkat dari 50,6% pada 2025, dengan renminbi menjadi salah satu mata uang yang paling banyak dipertimbangkan untuk penempatan investasi baru.

0Komentar