![]() |
| Ilustrasi pemandangan yard pelabuhan dengan tumpukan peti kemas warna-warni sebagai latar belakang utama. | APLUSWIRE/Irfan Afandi |
Amerika Serikat, kawasan euro, dan Inggris Raya diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$23,6 triliun dalam 25 tahun ke depan jika ingin membangun kembali rantai pasokan dan infrastruktur industri yang selama ini bergantung pada China. Angka tersebut menggambarkan besarnya biaya yang harus ditanggung negara-negara Barat untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap Beijing.
Analisis EY-Parthenon yang diterbitkan Senin lalu memperkirakan AS akan menjadi pihak dengan beban investasi terbesar, mencapai US$13,7 triliun. Jumlah itu setara dengan sekitar US$550 miliar setiap tahun, atau hampir menyamai total anggaran pertahanan AS saat ini.
Kebutuhan investasi tersebut muncul ketika Washington dan sejumlah pemerintah Eropa mempercepat upaya mengurangi ketergantungan terhadap manufaktur China. Perhatian terutama tertuju pada sektor mineral kritis, elektronik, semikonduktor, serta industri berteknologi tinggi yang selama puluhan tahun berkembang dengan dukungan kapasitas produksi China.
Dominasi China dalam rantai pasokan global kembali menjadi perhatian setelah Beijing beberapa kali menggunakan kontrol ekspor terhadap bahan baku strategis seperti galium dan germanium. Kedua mineral tersebut memiliki peran penting dalam industri semikonduktor, teknologi pertahanan, hingga energi terbarukan.
Ketergantungan itu membuat negara-negara Barat menghadapi dilema. Membangun rantai pasokan alternatif membutuhkan biaya besar, tetapi mempertahankan ketergantungan juga meningkatkan risiko ketika terjadi ketegangan geopolitik atau gangguan perdagangan.
EY-Parthenon memperingatkan bahwa pemisahan penuh dari China berpotensi menaikkan biaya produksi dan harga konsumen. Dampaknya dapat terasa di berbagai sektor, mulai dari farmasi, chip, energi bersih, hingga pengolahan bahan mentah.
China memiliki posisi kuat karena selama beberapa dekade memperoleh keuntungan dari investasi industri besar-besaran yang diarahkan negara. Kapasitas manufakturnya telah membentuk jaringan pemasok yang sulit digantikan dalam waktu singkat.
Besarnya biaya tersebut memperkuat perdebatan mengenai strategi decoupling atau pemisahan ekonomi total dari China. Banyak pembuat kebijakan Barat mulai menggeser pendekatan menuju de-risking, yaitu mengurangi risiko pada sektor-sektor strategis tanpa memutus seluruh hubungan perdagangan.
Uni Eropa juga menghadapi tantangan serupa. Kawasan tersebut mengakui bahwa hubungan ekonomi dengan China terlalu dalam untuk diputus sepenuhnya, terutama karena Beijing masih menjadi salah satu mitra dagang terbesar bagi banyak negara Eropa.
Analisis terbaru menunjukkan China justru lebih berhasil melakukan diversifikasi rantai pasokannya sendiri dibandingkan Eropa. Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan kemampuan industri antara kedua pihak.
AS sebelumnya telah menggelontorkan lebih dari US$30 miliar untuk memperkuat rantai pasokan mineral kritis. Washington bersama Canberra juga menyepakati kerangka kerja senilai US$1 miliar untuk mendanai proyek pertambangan baru.
Namun, angka tersebut masih jauh di bawah kebutuhan investasi triliunan dolar yang diperkirakan diperlukan untuk pemisahan menyeluruh dari China.
Gabriel Collins, peneliti di Baker Institute, Universitas Rice, menilai pemisahan total dari China dapat membawa konsekuensi ekonomi dan strategis bagi AS.
"Memisahkan diri dari China akan mengorbankan peluang dan pengaruh Amerika," ujar Collins, yang mendorong pembatasan lebih terarah terhadap teknologi sensitif dan sektor yang berkaitan dengan militer.
Perdebatan mengenai masa depan hubungan ekonomi Barat-China kini berada pada titik sulit. Pemerintah AS dan Eropa melihat China sebagai pesaing strategis, tetapi jaringan perdagangan yang sudah terbentuk selama puluhan tahun membuat pemutusan hubungan ekonomi menjadi langkah yang mahal dan kompleks.

0Komentar