![]() |
| F-16C/D Block 70 (Viper) milik Angkatan Udara Bahrain (Royal Bahraini Air Force - RBAF) dengan nomor ekor 1611, yang merupakan varian tercanggih dari keluarga F-16 Fighting Falcon. | U.S. AIR FORCE |
Bahrain dan Kuwait untuk pertama kalinya melancarkan serangan udara langsung ke sejumlah situs militer di Iran, menandai perubahan besar dalam sikap dua monarki Teluk yang sebelumnya hanya bertahan dari rentetan serangan Teheran. Operasi itu dilakukan dengan dukungan intelijen dan perlindungan udara dari Uni Emirat Arab (UEA), menurut laporan The Wall Street Journal.
Aksi tersebut terjadi setelah kedua negara selama berbulan-bulan menjadi sasaran rudal dan drone Iran yang mengincar fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
Sejak perang pecah pada 28 Februari akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, markas Armada Kelima AS di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait berulang kali diserang.
Ini menjadi titik balik.
Menurut The Wall Street Journal, keputusan melancarkan serangan diambil setelah gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh pada 8 Juli. Sejak itu, Iran meningkatkan intensitas serangan hampir setiap malam ke pangkalan-pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait, yang juga berdampak pada infrastruktur sipil, termasuk sebuah pembangkit listrik di Kuwait.
Hingga pertengahan Juli, serangan tersebut dilaporkan menewaskan empat personel militer dan lima warga sipil di Kuwait. Lebih dari 190 orang dari kalangan militer maupun sipil juga mengalami luka-luka.
Laporan The Wall Street Journal menyebut UEA menyediakan informasi intelijen mengenai lokasi target di Iran sekaligus memberikan perlindungan udara defensif selama operasi Bahrain dan Kuwait berlangsung.
Sebelumnya, harian itu juga melaporkan pada Mei bahwa UEA diam-diam telah melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk menyasar kilang minyak di Pulau Lavan.
Sebagai imbalannya, Washington disebut memperluas akses UEA terhadap chip kecerdasan buatan (AI) setelah negara itu berkontribusi dalam operasi militer, termasuk "melakukan serangan udara terhadap Iran" dan mencegat ratusan rudal.
Pada Maret, The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa sejumlah rudal darat yang digunakan untuk menyerang Iran diluncurkan dari Bahrain. Laporan itu menyebut negara-negara Teluk tengah "bergerak menuju keterlibatan langsung dalam pertempuran."
Menurut laporan tersebut, para pejabat Bahrain dan Kuwait menilai mereka tidak lagi dapat membiarkan serangan Iran terus berlangsung tanpa respons militer.
Sikap itu sejalan dengan pernyataan Dewan Kerja Sama Teluk pada 1 Maret yang menegaskan bahwa "setiap agresi terhadap satu anggota dipandang sebagai agresi terhadap semua" serta menyatakan hak untuk menerapkan "semua tindakan yang diperlukan", termasuk pembalasan.
Keterlibatan langsung Bahrain dan Kuwait memperluas medan perang yang sebelumnya telah menyeret sejumlah aktor regional. Arab Saudi lebih dahulu melancarkan serangan terhadap Iran, sementara kelompok Houthi di Yaman belakangan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi sehingga membuka front baru di kawasan.
Iran juga telah memperingatkan masih memiliki "urusan yang belum tuntas" dengan UEA serta mengancam akan merebut wilayah Bahrain dan UEA. Di saat yang sama, serangan Amerika Serikat terhadap Iran telah memasuki malam ke-13 berturut-turut, sementara upaya diplomatik untuk meredakan konflik belum menghasilkan terobosan.

0Komentar