![]() |
| pelaut AS sedang memindahkan persenjataan di dek penerbangan kapal induk USS Abraham Lincoln. | U.S. NAVY |
Amerika Serikat mempercepat transformasi industri pertahanannya untuk menghadapi potensi konflik berkepanjangan di Indo-Pasifik. Pemerintah menggelontorkan miliaran dolar, memperluas jaringan pemasok, dan meningkatkan kapasitas produksi amunisi. Namun, sejumlah lembaga riset menilai investasi besar itu belum menjamin AS mampu mempertahankan tempo perang jika harus menghadapi China dalam konflik berskala besar.
Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis bulan ini menyebut Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD) telah mencatat kemajuan signifikan dalam memperkuat basis industri pertahanan.
Sepanjang tahun fiskal 2025, DoD menambah sekitar 5.000 pemasok baru dan mendorong nilai kontrak dengan perusahaan nontradisional melampaui US$120 miliar. Langkah itu dilakukan setelah stok amunisi AS terkuras akibat berbagai operasi militer, termasuk perang dengan Iran.
Untuk mempercepat pemulihan persediaan, DoD meneken kontrak multiyears guna meningkatkan produksi rudal pencegat serta mengubah strategi pengadaan menjadi kombinasi high-low mix. Dalam skema tersebut, amunisi berbiaya rendah ditargetkan mencakup 70% dari total kebutuhan pada tahun fiskal 2031.
Washington juga mengalokasikan US$7,6 miliar pada periode 2025-2026 untuk membangun rantai pasok mineral tanah jarang dari tambang hingga magnet (mine-to-magnet) di luar kendali China. Meski demikian, CSIS mengingatkan bahwa waktu tunggu produksi berbagai sistem senjata utama masih mencapai lebih dari tiga tahun, sehingga kesiapan industri perang belum bisa dicapai dalam waktu singkat.
Selisih antara besarnya nilai investasi dan panjangnya waktu tunggu produksi ini memperlihatkan bahwa kesiapan industri pertahanan AS masih berpacu dengan waktu, bukan semata soal besaran anggaran yang digelontorkan.
Konflik besar bisa menguras persediaan dalam hitungan hari
Besarnya kebutuhan amunisi dalam perang modern menjadi tantangan tersendiri.
Dalam artikel Texas National Security Review (TNSR) 2025, Nicholas Anderson dan Daryl Press memperkirakan serangan pendahuluan terhadap Korea Utara saja akan melibatkan 24 pembom jarak jauh B-1 dan B-52 yang membawa 528 rudal jelajah udara (air-launched cruise missile/ALCM), ditambah 120 rudal jelajah Tomahawk yang ditembakkan dari kapal perang.
![]() |
| M270 Multiple Launch Rocket System (MLRS), selama operasi railhead operations di Fort Sill, Oklahoma. | LOCKHEED MARTIN |
Pasukan darat AS di Semenanjung Korea juga diperkirakan mengerahkan 48 sistem roket M270A1 Multiple Launch Rocket System (MLRS) berpemandu presisi untuk menghancurkan artileri Korea Utara sejak awal operasi.
Namun skenario itu masih jauh lebih kecil dibandingkan kemungkinan perang melawan China di Taiwan.
Dalam laporan CSIS edisi Mei 2026, Seth Jones memperkirakan militer AS dapat menghabiskan 3.000 hingga 5.000 rudal JASSM, 3.500 hingga 4.000 JASSM-ER, serta 400 sampai 1.000 rudal Tomahawk hanya dalam tujuh hari pertama perang. Konsumsi sebesar itu berpotensi langsung menguras stok rudal utama AS.
Jika konflik di Semenanjung Korea dan Taiwan pecah hampir bersamaan, persediaan rudal, armada pembom, hingga jaringan logistik AS harus dibagi ke dua front sekaligus.
Rangkaian angka ini memperlihatkan bahwa kecepatan konsumsi amunisi dalam perang skala besar jauh melampaui laju produksi saat ini, apalagi bila dua front harus dihadapi dalam waktu yang berdekatan.
China unggul dalam produksi amunisi
Perbandingan kapasitas industri kedua negara juga menjadi perhatian. Laporan TIDALWAVE yang diterbitkan Heritage Foundation pada Januari 2026 menyebut sistem produksi amunisi China jauh lebih terintegrasi dibandingkan AS.
Menurut laporan tersebut, model industri pertahanan AS masih bergantung pada persediaan terbatas dan menghadapi risiko gangguan pasokan akibat jeda produksi hingga dua tahun, kemacetan produksi motor roket, serta ketergantungan pada impor TNT dari Polandia. Dalam kondisi perang, kombinasi faktor tersebut disebut dapat memicu kegagalan pasokan dalam 25 hingga 120 hari.
![]() |
| SR-5 Multiple Launch Rocket System (MLRS) buatan perusahaan pertahanan Tiongkok, NORINCO. |
Sebaliknya, konglomerat pertahanan milik negara seperti NORINCO disebut mengoperasikan pabrik pintar berbasis otomatisasi robotik yang mampu meningkatkan kapasitas produksi masa perang hingga 150%-250% dibandingkan kondisi normal.
Meski begitu, laporan yang sama menilai kedua negara sama-sama memiliki titik lemah. AS masih bergantung pada mineral tanah jarang dari China, sedangkan jaringan distribusi industri China yang terpusat dan mengandalkan jalur kereta api dinilai rentan terhadap serangan siber maupun pembatasan ekspor semikonduktor canggih.
Temuan ini menunjukkan bahwa keunggulan produksi China bukan berarti tanpa celah, sebab kerentanan pada rantai distribusi dan ketergantungan teknologi tetap menjadi titik yang berpotensi dimanfaatkan pihak lawan.
Logistik jadi titik lemah
Persoalan berikutnya bukan lagi soal jumlah rudal yang diproduksi, melainkan kemampuan mengirimkannya ke garis depan.
Dalam laporan Hudson Institute Januari 2025, Thomas Shugart III dan Timothy Walton menilai pangkalan-pangkalan depan AS di Indo-Pasifik masih memiliki banyak kerentanan akibat minimnya investasi logistik selama bertahun-tahun.
Mereka memperingatkan serangan presisi China dapat melumpuhkan jaringan distribusi bahan bakar, tangki penyimpanan di atas permukaan tanah, hingga gudang amunisi yang menopang operasi penerbangan. Kerusakan tersebut juga akan menyulitkan penyebaran pesawat ke pangkalan alternatif karena cadangan amunisi, stok bahan bakar, dan perlindungan pasif masih terbatas.
Penilaian serupa disampaikan Kelly Grieco bersama rekan-rekannya dalam laporan Stimson Center pada Desember 2024. Mereka memperingatkan serangan rudal terhadap landasan pacu pangkalan depan dapat memutus rantai logistik dan menghentikan operasi pesawat pengisian bahan bakar di udara.
Menurut mereka, landasan yang rusak akan menghambat distribusi suku cadang maupun amunisi, sementara persediaan bahan bakar dan senjata di pangkalan depan berpotensi habis hanya dalam beberapa hari apabila jalur pasokan terganggu.
Berbagai penilaian ini menggarisbawahi bahwa kekuatan produksi senjata tidak akan banyak berarti apabila jalur pengiriman dan pangkalan depan tetap menjadi sasaran empuk bagi serangan presisi lawan.
Uang belum berubah jadi senjata siap tempur
Meski anggaran pertahanan AS diproyeksikan mencapai 4,6% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun fiskal 2027, sejumlah analis menilai peningkatan belanja belum otomatis menghasilkan kemampuan tempur.
Mark Cancian dan Chris Park dalam laporan CSIS edisi Mei 2026 menilai pengumuman kontrak besar masih menyisakan "jendela kerentanan" karena banyak proyek belum menghasilkan senjata yang benar-benar siap digunakan di medan perang.
Mereka mencatat berbagai rudal dan sistem pencegat masih menghadapi antrean produksi yang panjang, dengan waktu penyelesaian mencapai tiga tahun atau lebih sejak dana dialokasikan. Menurut keduanya, investasi besar tidak serta-merta menghilangkan hambatan rantai pasok maupun memperluas kapasitas pabrik dalam waktu singkat.
Karena itu, tantangan berikutnya bagi Amerika Serikat bukan sekadar membangun lebih banyak fasilitas produksi. Kemampuan menjaga arus pasokan senjata, mempertahankan logistik di bawah serangan, serta mengisi kembali persediaan lebih cepat daripada laju konsumsi perang akan menjadi ukuran utama efektivitas pembangunan industri pertahanannya.
Kesenjangan antara besaran anggaran dan kecepatan realisasi senjata siap pakai ini memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukan terletak pada nilai kontrak yang diteken, melainkan pada seberapa cepat pasokan bisa mengalir saat pertempuran benar-benar berlangsung.



0Komentar