Pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat di kapal induk Carl Vinson dalam latihan rutin di Laut China Selatan, 3 Maret 2017. | REUTERS/Erik De Castro 

Amerika Serikat memperluas operasi militernya terhadap Iran dengan melancarkan serangan hingga wilayah utara negara itu pada hari kelima eskalasi konflik, Kamis (16/7). 

Operasi tersebut berlangsung setelah Washington memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memicu serangkaian serangan balasan Teheran ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Menurut Associated Press, militer AS memperluas sasaran serangan melampaui kawasan pesisir selatan Iran dan melumpuhkan sebuah kapal yang berupaya menerobos blokade. Secara terpisah, CNN melaporkan pasukan AS juga menyerang sebuah pulau Iran serta menghantam kapal tanker yang menuju pelabuhan minyak utama negara itu.

Sehari sebelumnya, Rabu (15/7), U.S. Central Command (CENTCOM) menyelesaikan operasi pemboman selama 90 menit di Pulau Greater Tunb. Serangan menggunakan amunisi presisi itu menyasar sistem pertahanan pantai, instalasi rudal jelajah, serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal.

Pulau strategis jadi sasaran

CENTCOM menyebut operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Dalam keterangannya, CENTCOM mengatakan serangan diarahkan ke "pusat komando Iran, instalasi pertahanan udara, kemampuan rudal dan drone, beserta fasilitas pengawasan pesisir untuk lebih melemahkan kapasitas Iran dalam mengancam para pelaut tak bersalah yang mengoperasikan kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz".

Eskalasi itu terjadi setelah Presiden Donald Trump pada 13 Juli mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. CENTCOM kemudian mengonfirmasi operasi tersebut mulai dijalankan kembali pada pukul 16.00 waktu Timur AS, 14 Juli.

Blokade yang sebelumnya pernah diterapkan pada April setelah perundingan damai AS-Iran di Pakistan gagal itu melarang kapal-kapal Iran melintasi Selat Hormuz, meski jalur pelayaran internasional tetap dibuka di bawah pengawasan militer AS.

Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun ke titik terendah dalam lima pekan terakhir. Halaman media CENTCOM juga mengindikasikan pasukan AS telah melumpuhkan sebuah kapal yang mencoba memasuki pelabuhan Iran dengan melanggar blokade tersebut.

Iran balas serang pangkalan AS

Di tengah operasi militer AS, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

IRGC mengklaim berhasil menghancurkan depot bahan bakar, sistem pertahanan udara Patriot, serta fasilitas radar FPS di pangkalan AS di Kuwait. Namun, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat empat rudal yang memasuki wilayah udaranya dari arah Iran.

Serangan tersebut langsung menuai kecaman dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Dalam pernyataan yang dirilis Rabu (15/7), Sekretaris Jenderal GCC Jasem Albudaiwi menyebut aksi Iran sebagai "eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya" yang mengancam stabilitas kawasan.

"Serangan Iran yang pengecut terhadap Bahrain, Kuwait, dan Yordania mempertegas niat Iran untuk menjerumuskan kawasan ini ke dalam kekacauan dan ketidakstabilan yang lebih dalam," ujar Albudaiwi.

Korban sipil bertambah

Kementerian Kesehatan Iran melaporkan serangan terbaru AS di sejumlah provinsi selatan negara itu menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.

Dua perempuan dan seorang remaja termasuk di antara korban tewas. Provinsi Hormozgan di selatan serta Sistan dan Baluchestan di tenggara menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, sementara 72 korban luka masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Secara terpisah, militer Iran juga melaporkan tujuh personelnya tewas dalam serangan yang terjadi di wilayah tenggara negara itu pada Rabu (15/7).