Xi Jinping dan Kim Jong Un saat parade penyambutan kunjungan kenegaraan Xi ke Pyongyang. | KCNA

Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara pada 8-9 Juni mendatang. Lawatan atas undangan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ini menandai kehadiran pertama Xi di Pyongyang setelah hampir tujuh tahun, tepatnya sejak Juni 2019.

Kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, dan media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), mengonfirmasi rencana tersebut secara bersamaan pada Jumat (5/6). Kendati demikian, kedua pihak masih merahasiakan rincian agenda pembicaraan yang akan berlangsung selama dua hari tersebut.

Agenda ke Pyongyang ini melengkapi rangkaian perjalanan diplomatik intensif Xi Jinping sepanjang beberapa pekan terakhir. Sebelum melawat ke Korea Utara, Xi telah menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan puncak di Beijing pada pertengahan Mei, disusul pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa hari setelahnya pada 20-21 Mei.

Dalam pertemuan bersama Putin, Beijing dan Moskwa menyepakati pernyataan bersama yang menentang sanksi serta "tekanan asing" terhadap Pyongyang. Sikap ini dibaca para analis sebagai tantangan langsung terhadap langkah AS yang berupaya membendung program nuklir dan rudal Korea Utara.

Tiongkok sejauh ini masih menjadi mitra dagang terbesar sekaligus penyokong politik utama bagi Korea Utara. Namun, dinamika kedua negara belakangan menjadi lebih kompleks seiring kian mesranya hubungan militer Pyongyang dan Moskwa pascainvasi Rusia ke Ukraina. 

Korea Utara dilaporkan menerima bantuan ekonomi dan pasokan teknologi militer canggih dari Rusia sebagai imbalan atas pengiriman pasukan, sebuah kompensasi yang perlahan memangkas ketergantungan tradisional Pyongyang pada Beijing.

Langkah Xi untuk berkunjung juga bertepatan dengan momentum sensitif, setelah Pyongyang memamerkan fasilitas pengayaan uranium baru disertai seruan Kim Jong Un untuk mendongkrak arsenal nuklirnya secara besar-besaran. 

Sejumlah pengamat menilai Tiongkok mulai melihat kapasitas nuklir Korea Utara bukan lagi sebagai beban, melainkan aset strategis untuk mengimbangi pengaruh geopolitik AS di kawasan Asia-Pasifik.

Pertemuan langsung terakhir antara Xi dan Kim terjadi pada September 2025, saat pemimpin Korea Utara itu bertolak ke Beijing untuk menghadiri parade militer peringatan ke-80 berakhirnya Perang Dunia II.

Rencana lawatan pekan depan memicu perhatian serius dari negara tetangga. Otoritas Seoul berharap kunjungan ini mampu meredakan ketegangan geopolitik yang sedang meninggi di kawasan perbatasan.

"Kami berharap kunjungan tersebut berkontribusi positif dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan Semenanjung Korea," sebut Kementerian Luar Negeri Korea Selatan melalui pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Yonhap, Jumat.

Ketidakpastian mengenai hasil konkret pertemuan tetap membayangi. Lembaga pemikir Korea Economic Institute of America mencatat, Beijing kemungkinan besar mengirimkan sinyal ambigu terkait isu denuklirisasi pascapertemuan puncak Trump-Xi bulan lalu. Perhatian internasional kini tertuju sepenuhnya pada apakah diplomasi Xi di Pyongyang mampu memantik komunikasi baru antara Korea Utara dan Washington.