Sebuah kapal melintasi pabrik pengolahan nikel di Kawasan Industri Teluk Weda Indonesia di Halmahera Tengah, provinsi Maluku Utara, Indonesia, 8 Juni 2024. | AP PHOTO/Achmad Ibrahim

Perubahan peta kebijakan pertambangan di Indonesia memicu pergeseran arus modal asing. Sejumlah perusahaan asal Tiongkok yang selama ini menyokong posisi Indonesia sebagai raksasa nikel global, kini mulai aktif membidik Afrika sebagai alternatif investasi jangka panjang menyusul pengetatan regulasi ekspor dan pengawasan tambang yang kian agresif oleh Jakarta.

Langkah taktis ini memuncak setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perombakan besar-besaran tata kelola komoditas pada akhir Mei lalu. 

Pemerintah berencana memusatkan seluruh aktivitas ekspor batu bara, minyak sawit, hingga feroaloi di bawah kendali badan usaha milik negara baru, PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Lembaga ini disokong penuh oleh dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) Danantara dengan kepemilikan saham mencapai 99%.

Kebijakan tersebut bergulir demi memberantas praktik under-invoicing sekaligus mendongkrak penerimaan pajak negara, walau sebagian analis pasar menilai langkah ini sebagai bentuk "pengambilalihan paksa" terhadap industri yang selama ini didominasi modal asing.

Ketidakpastian kian menebal bagi para pelaku pasar global seiring terbitnya peraturan teknis transisi ekspor pekan ini. Terlebih, per 1 Juni kemarin, seluruh eksportir sumber daya alam sudah diwajibkan untuk memarkir seluruh devisa hasil ekspor mereka di bank-bank milik negara.

Protes keras pelaku usaha

Sebelum sentralisasi ekspor ini diketuk, riak keberatan sebetulnya sudah muncul dari internal investor. Kamar Dagang China di Indonesia sempat melayangkan surat protes langsung kepada Presiden Prabowo. Mereka membeberkan enam poin krusial yang dinilai menyumbat iklim investasi, mulai dari lonjakan pajak yang drastis, pemangkasan kuota bijih nikel, hingga pembekuan beberapa proyek strategis.

Perusahaan-perusahaan Tiongkok mengaku menghadapi "regulasi yang terlampau ketat, penegakan hukum yang berlebihan, bahkan korupsi dan pemerasan oleh pihak berwenang," tulis surat protes tersebut. Pihak Kamar Dagang juga memperingatkan bahwa situasi di lapangan telah "sangat mengganggu operasional bisnis normal" sekaligus "merusak kepercayaan investasi jangka panjang."

Ekspansi ke Afrika jadi alternatif

Laporan The Straits Times mengonfirmasi bahwa tekanan regulasi di Indonesia memantik korporasi Tiongkok untuk beralih ke Afrika demi mengamankan rantai pasok mereka. Di Zambia, misalnya, Cinfeng Investment Limited Group tengah menjajaki investasi senilai US$40 juta untuk menghidupkan kembali Tambang Nikel Munali di Distrik Mazabuka.

Agresivitas Tiongkok di sektor ini bukan hal baru. Studi keamanan nasional dari Universitas Virginia mencatat Negeri Tirai Bambu itu telah membenamkan modal lebih dari US$24 miliar untuk menguasai saham pengendali di berbagai perusahaan pertambangan serta pengolahan litium, kobalt, dan nikel di luar wilayah mereka.

Dominasi Tiongkok yang mulai goyah

Hubungan ekonomi kedua negara di sektor nikel sebenarnya tergolong sangat intim. Data tahun 2024 menunjukkan Indonesia mendatangkan sekitar 70% mesin berat pertambangannya dari Tiongkok, sementara 82% total ekspor nikel Indonesia ditampung oleh pasar Tiongkok. Pengusaha Tiongkok sendiri menguasai sekitar 75% kapasitas pengolahan nikel di tanah air.

Namun, ketergantungan timbal balik ini berada di posisi rentan. Lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Amerika Serikat melihat industri nikel Indonesia sedang didera "krisis profitabilitas" akibat banjir pasokan dan kemerosotan harga di pasar global. Perubahan regulasi domestik yang mendadak dinilai memperparah kerentanan tersebut.

Melihat dinamika yang bergeser, peneliti dari China Climate Hub di Asia Society Policy Institute, Li Shuo, menilai signifikansi posisi Indonesia bagi Tiongkok memang sangat krusial namun tidak bersifat statis.

"Indonesia telah menjadi sangat penting bagi China" karena memasok komoditas yang "menopang dominasi China dalam kendaraan listrik, baterai, dan manufaktur industri," kata Li Shuo. "Namun hubungan ini terus berkembang."