Presiden Rusia Vladimir Putin memimpin rapat pemerintah di Magnitogorsk, Rusia, pada 6 Agustus. | Kremlin.ru

Drone Ukraina kembali menghantam infrastruktur energi Rusia dengan menyerang dua kilang minyak besar di wilayah Krasnodar dan Yaroslavl pada Minggu (28/6) malam. Serangan itu terjadi ketika Rusia masih menghadapi kelangkaan bahan bakar yang memicu pembatasan penjualan di lebih dari 55 wilayah, termasuk di ibu kota Moskwa.

Puing drone Ukraina yang ditembak jatuh memicu kebakaran di sebuah kilang minyak di Slavyansk-na-Kubani, Krasnodar, di sebelah timur Krimea yang diduduki Rusia. Gubernur Krasnodar Veniamin Kondratyev mengatakan insiden itu menewaskan satu orang dan melukai seorang lainnya di desa terdekat.

Di saat yang sama, Pasukan Operasi Khusus Ukraina menyatakan telah menyerang kilang minyak Yaroslavl, salah satu dari lima kilang terbesar Rusia dengan kapasitas pengolahan sekitar 15 juta ton minyak per tahun. Fasilitas tersebut memasok bahan bakar ke Moskwa dan Distrik Federal Pusat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim kedua serangan berlangsung sukses.

Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan telah menembak jatuh 213 drone Ukraina sepanjang malam. Ukraina juga melaporkan mendapat serangan balasan dari Rusia berupa 142 drone jarak jauh dan delapan rudal dalam semalam, menurut angkatan udara negara itu.

Serangan terhadap fasilitas energi menjadi bagian dari strategi Kyiv untuk menekan kemampuan logistik Rusia sejak perang memasuki tahun keempat. Dampaknya mulai terlihat pada distribusi bahan bakar di berbagai wilayah Rusia.

Menurut The Moscow Times, hingga akhir Juni sedikitnya 56 wilayah telah menerapkan pembatasan bahan bakar. Laporan Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL) juga menyebut 55 dari 83 entitas federal Rusia mengalami pembatasan penjualan bahan bakar, baik yang diberlakukan pemerintah maupun perusahaan swasta. Di sejumlah kota besar, termasuk Moskwa dan Sankt Peterburg, sejumlah SPBU membatasi pembelian bensin hingga 20 liter per transaksi.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Vladimir Putin untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui besarnya tekanan yang dihadapi Rusia akibat serangan terhadap infrastruktur dalam negeri.

Berbicara dalam kongres partai berkuasa United Russia menjelang pemilihan parlemen pada September, Putin mengatakan negaranya sedang menghadapi tantangan besar.

"Kita sedang melewati masa yang sulit, namun masa ini telah mengajarkan banyak hal kepada kita," kata Putin, seperti dikutip kantor berita pemerintah Rusia, TASS.

Ia menambahkan, "Kita pasti akan mengatasi semua tantangan yang kita hadapi hari ini, termasuk serangan teroris terhadap wilayah dan fasilitas infrastruktur kita."

Pemerintah Rusia juga memperketat kebijakan perdagangan energi untuk menjaga pasokan domestik. Larangan ekspor bensin telah berlaku sejak Agustus 2025, disusul pelarangan ekspor bahan bakar jet sejak Juni hingga November 2026. Wakil Perdana Menteri Alexander Novak pada akhir Juni mengatakan pemerintah juga sedang mempertimbangkan larangan penuh ekspor solar.

Rentetan serangan terhadap kilang minyak diperkirakan telah melumpuhkan lebih dari 20% kapasitas pengolahan Rusia. Produksi produk minyak negara itu pun turun 13% pada Mei dibandingkan setahun sebelumnya. Untuk menjaga pasokan, pemerintah Rusia melonggarkan standar mutu bahan bakar dengan mengizinkan penjualan bensin berkadar sulfur sekitar 15 kali di atas batas yang berlaku di Eropa.