APLUSWIRE/NEM

Jutaan orang Indonesia membuka aplikasi streaming setiap malam, larut dalam cerita romansa dan intrik kerajaan dari daratan China. Mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan. Mereka hanya menonton. Namun justru di titik paling santai inilah sindikat kejahatan keuangan global memilih untuk menyerang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juni 2026 mengungkap modus penipuan terbaru yang menyusup melalui situs dan platform drama China. Pelaku memanfaatkan tingginya minat masyarakat terhadap konten hiburan asal Tiongkok untuk menarik korban ke dalam skema penipuan berkedok investasi, tugas online, hingga pencarian komisi. 

Ini bukan sekadar penipuan biasa. Ini adalah evolusi serius dari kejahatan keuangan digital yang menunjukkan betapa canggih dan betapa terorganisirnya jaringan di baliknya.

Pelaku kejahatan tidak memilih drama China secara acak. Ada kalkulasi dingin di balik pilihan itu.

Kenapa drama China?

Drama China telah menguasai porsi yang sangat besar dari konsumsi hiburan digital Indonesia. Di dua platform streaming terbesar yang menyiarkan konten Asia, C-Drama mendominasi hampir sepertiga hingga separuh dari total jam tonton pengguna Indonesia.

Drama China kuasai sepertiga jam tonton streaming Indonesia

Porsi jam tonton drama China (C-Drama) dari total tonton di masing-masing platform, 2025
Sumber: Berbagai laporan pers diolah Apluswire.

Penonton drama China bukan penonton pasif. Mereka membangun komunitas, mengikuti perkembangan serial episode demi episode, dan memiliki keterlibatan emosional yang tinggi terhadap konten yang mereka konsumsi. 

Di TikTok Indonesia, tagar terkait drama China telah meraih ratusan juta hingga miliaran tayangan. Jumlah pelanggan streaming berbayar di Indonesia bahkan meningkat 23% pada 2025, menjadikan Indonesia salah satu pasar paling dinamis di Asia Tenggara.

Audiens yang emosionally engaged adalah audiens yang lebih mudah diperdaya, karena kepercayaan mereka terhadap ekosistem konten sudah terbentuk sebelum penipu datang. 

Secara demografis, penonton drama China di Indonesia didominasi kelompok usia produktif 15 hingga 34 tahun dengan komposisi sekitar 65% perempuan — kelompok yang juga aktif di media sosial dan familiar dengan transaksi digital. Itulah mengapa pelaku masuk dari pintu ini.

Jebakannya tak terasa seperti jebakan

Mekanisme penipuannya dirancang bertahap dan terasa masuk akal bagi korban.

Satgas PASTI mengidentifikasi sejumlah entitas ilegal yang beroperasi dengan modus berlapis. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda, namun semuanya berbagi satu kesamaan: mereka menyamar sebagai peluang penghasilan yang mudah dan menyenangkan.

Entitas
Kategori Modus
Cara Kerja

Pola yang membuat modus ini efektif adalah logika psikologisnya. Korban tidak langsung diminta berinvestasi dalam jumlah besar. Mereka pertama-tama diajak melakukan sesuatu yang terasa ringan dan familiar, yakni menonton. Setelah kepercayaan terbentuk dan korban mulai merasakan "keuntungan" awal yang fiktif, barulah mereka diarahkan ke tahap deposit, rekrutmen anggota baru, atau pembelian paket yang lebih mahal.

Sebagian besar entitas ilegal ini mewajibkan anggota melakukan deposit dana dan merekrut anggota baru melalui skema Member Get Member untuk mendapatkan pendapatan harian dan bonus tambahan. Struktur ini persis seperti money game klasik, hanya dikemas dalam bungkus hiburan digital yang lebih meyakinkan.

Berdasarkan hasil investigasi, seluruh entitas yang dihentikan Satgas PASTI tidak memiliki izin yang sesuai dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi dan tidak terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik di Kementerian Komunikasi dan Digital. Mereka beroperasi di ruang abu-abu regulasi, memanfaatkan lambatnya pengawasan terhadap entitas-entitas kecil yang bermunculan dengan cepat.

Korbannya sudah setengah juta

Skala kejahatan digital di Indonesia tidak hanya besar, ia tumbuh dengan kecepatan yang sulit dikejar.

Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) baru berdiri pada 22 November 2024. Dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, lembaga ini sudah kebanjiran lebih dari setengah juta laporan dari masyarakat.

Laporan penipuan digital meledak dalam 16 bulan

Jumlah kumulatif laporan yang diterima IASC OJK, Nov 2024 – Mar 2026
Sumber: Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK.

Yang membuat angka-angka tersebut semakin mengkhawatirkan bukan hanya kecepatannya, melainkan kesenjangan antara kerugian yang terjadi dan kemampuan sistem untuk memulihkannya. Dari total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun, dana yang berhasil diblokir IASC hanya Rp436,88 miliar.

95% dana korban tak berhasil diselamatkan

Perbandingan total kerugian vs dana yang berhasil diblokir IASC (dalam triliun rupiah), Nov 2024 – Jan 2026
Sumber: Siaran Pers IASC OJK, Januari 2026.

Artinya, lebih dari 95% uang yang dicuri dari masyarakat tidak berhasil diselamatkan. Ini bukan hanya soal kejahatan yang berkembang pesat. Ini soal kesenjangan besar antara kecepatan pelaku kejahatan beroperasi dan kecepatan sistem perlindungan merespons.

Sepanjang 1 Januari hingga 20 Mei 2026 saja, OJK menerima 17.105 pengaduan terkait entitas ilegal. Satgas PASTI merespons dengan menghentikan 951 entitas pinjaman online ilegal, 8 penawaran investasi ilegal, serta 1 aktivitas keuangan ilegal lainnya dalam periode yang sama. Namun selama entitas-entitas baru terus bermunculan lebih cepat dari kemampuan pemblokiran, angka kerugian akan terus menumpuk.

Indonesia di peta kejahatan keuangan global

Modus penipuan yang menyasar penonton drama China bukan fenomena yang berdiri sendiri. Ia adalah cabang lokal dari pohon kejahatan transnasional yang akarnya tertancap di Asia Tenggara.

Secara global, skema penipuan berbasis tugas online ini dikenal sebagai varian dari "pig butchering scam", sebuah bentuk kejahatan terorganisir di mana korban digemukkan terlebih dahulu dengan kepercayaan dan iming-iming keuntungan kecil sebelum akhirnya ditipu habis-habisan. Jaringan ini beroperasi dari pusat-pusat penipuan di Myanmar, Kamboja, Laos, dan Filipina, sebagian besar dikelola oleh sindikat kejahatan terorganisir dari Tiongkok.

Skala globalnya mencengangkan. Pada 2025, cryptocurrency scam saja menerima setidaknya US$14 miliar secara on-chain, meningkat signifikan US$9,9 miliar di tahun sebelumnya. 

Impersonation scam, yang persis seperti modus yang ditemukan di Indonesia, tumbuh lebih dari 1.400% dibandingkan 2024. Keuntungan dari operasi scam online bahkan diperkirakan mencapai 40% dari gabungan GDP Kamboja, Laos, dan Myanmar. 

Ini bukan lagi sekadar kejahatan, melainkan sektor ekonomi gelap yang menopang kehidupan ratusan ribu orang, termasuk para korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di dalamnya.

Indonesia bukan hanya korban dari jaringan ini. Lebih dari 2.750 warga Indonesia meminta bantuan kedutaan untuk dipulangkan dari Kamboja menyusul penangkapan tokoh-tokoh jaringan scam di sana pada Januari 2026. Ini membuktikan bahwa Indonesia juga menjadi sumber tenaga kerja yang diperdagangkan ke dalam mesin kejahatan global tersebut.

Kecepatan jadi masalah utama

OJK dan Satgas PASTI tidak tinggal diam. Dalam rangka penegakan ketentuan perlindungan konsumen, OJK telah memberikan 48 peringatan tertulis kepada 44 pelaku usaha jasa keuangan, 5 instruksi tertulis, dan 17 sanksi denda kepada 15 pelaku usaha. Satgas PASTI juga berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, BSSN, Kepolisian, dan Kementerian Agama dalam patroli siber.

IASC sendiri merupakan langkah maju yang nyata. Lembaga ini berhasil mengembalikan Rp161 miliar kepada 1.070 korban scam pada Januari 2026, sebuah pencapaian yang secara simbolis penting meski angkanya masih jauh dari total kerugian.

Namun ada pertanyaan struktural yang perlu dijawab secara jujur. Jika lebih dari 95% dana korban tidak berhasil diselamatkan, apakah model respons yang ada sudah cukup? 

Pemblokiran entitas memang penting, tetapi entitas baru terus bermunculan dengan kecepatan yang melampaui kemampuan pemblokiran. Ketua Sekretariat Satgas PASTI Hudiyanto sendiri mengakui bahwa skema penipuan digital saat ini sudah terorganisir menyerupai struktur industri.

Menghadapi industri kejahatan yang sistematis, pendekatan yang juga sistematis dan bukan sekadar reaktif menjadi kebutuhan yang mendesak.

Tak ada yang merasa sedang ditipu

Ada dimensi yang sering luput dari diskusi kebijakan, yakni mengapa orang-orang terdidik dan waspada sekalipun bisa jatuh ke dalam jebakan ini.

Penipuan berbasis hiburan digital memiliki keunggulan psikologis dibandingkan penipuan konvensional. Korban tidak merasa sedang "berinvestasi" di awal. Mereka merasa sedang melakukan aktivitas menyenangkan, menonton konten yang mereka sukai, dan mendapatkan sedikit keuntungan tambahan. Rasa curiga yang biasanya menjadi pelindung pertama justru dilucuti oleh konteks yang terasa familiar dan menyenangkan.

Fenomena parasocial relationship, atau keterikatan emosional satu arah terhadap konten dan karakter fiksi, membuat penonton drama China memiliki hubungan yang kuat dengan ekosistem konten tersebut. Ketika penipuan datang melalui pintu yang sama dengan hiburan kesayangan mereka, pagar psikologis yang biasanya berdiri justru terbuka lebar.

Inilah mengapa edukasi keuangan yang hanya berfokus pada "jangan tergiur keuntungan tinggi" tidak cukup. Modus baru ini tidak langsung menawarkan keuntungan tinggi. Ia menawarkan kesenangan, komunitas, dan keuntungan kecil yang terasa masuk akal, sebelum perlahan meningkatkan taruhannya.


Drama China yang meledak popularitasnya di Indonesia adalah fenomena budaya yang nyata dan signifikan. Jutaan orang menemukan hiburan, komunitas, dan pelarian dari rutinitas melalui konten tersebut. Tidak ada yang salah dengan itu.

Yang salah adalah ketika sindikat kejahatan terorganisir memanfaatkan pintu itu untuk masuk ke kehidupan finansial orang-orang yang tidak curiga. Dan yang perlu menjadi perhatian bersama adalah kenyataan bahwa skala kejahatan ini sudah jauh melampaui apa yang bisa ditangani dengan pendekatan-pendekatan yang ada saat ini.

Ketika kejahatan sudah beroperasi seperti industri, respons kita juga harus sekuat industri. Bukan hanya imbauan waspada yang datang setelah korban berjatuhan.