![]() |
| Pelabuhan Tanger Med di Maroko, pelabuhan kontainer terbesar di Laut Tengah, menjadi pusat transshipment utama di dekat Selat Gibraltar yang menghubungkan perdagangan Asia, Eropa, dan Afrika. |AFP |
Uni Eropa (UE) menyoroti derasnya investasi industri China di Maroko yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi pusat produksi baru untuk baterai, kendaraan listrik, dan komponen otomotif. Brussels khawatir investasi tersebut dapat menjadi jalur alternatif bagi produk China untuk memasuki pasar tunggal Eropa dengan memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas yang dimiliki Maroko dengan UE.
Laporan Financial Times menyebut produsen China telah menanamkan investasi sekitar US$6 miliar di Maroko sejak pandemi Covid-19. Arus modal itu mendorong pembangunan berbagai fasilitas manufaktur yang berfokus pada sektor otomotif dan energi bersih.
Salah satu proyek terbesar datang dari Gotion High-Tech yang tengah membangun pabrik baterai berskala besar atau gigafactory di Kenitra, wilayah barat laut Maroko. Nilai investasinya mencapai US$6,5 miliar dan produksi komersial ditargetkan mulai berjalan pada kuartal ketiga 2026.
Investasi besar lainnya berasal dari COBCO, perusahaan patungan antara CNGR Advanced Materials asal China dan kelompok investasi Maroko Al Mada.
Pada Juni 2025, perusahaan tersebut meresmikan fasilitas produksi bahan prekursor baterai lithium-ion senilai US$2 miliar di Jorf Lasfar. Pabrik itu dirancang memiliki kapasitas hingga 70 gigawatt-jam per tahun, cukup untuk memasok sekitar satu juta kendaraan listrik setiap tahun.
Posisi geografis Maroko yang dekat dengan Eropa menjadi salah satu faktor utama yang menarik minat investor China. Selain memiliki akses perdagangan bebas dengan UE, negara Afrika Utara itu juga tidak menerapkan pembatasan khusus terhadap barang-barang asal China.
Kekhawatiran Brussels muncul di tengah upaya blok tersebut membendung masuknya produk China yang dinilai memperoleh subsidi besar dari pemerintah Beijing. Para pejabat Eropa menilai sebagian perusahaan dapat memanfaatkan proses produksi terbatas di Maroko untuk memperoleh akses yang lebih mudah ke pasar Eropa.
Sikap tersebut mulai terlihat melalui kebijakan perdagangan yang diterapkan Komisi Eropa. Pada Maret 2025, Brussels mengenakan bea countervailing hingga 31,4% terhadap impor pelek aluminium dari Maroko setelah penyelidikan menemukan adanya manfaat dari subsidi pemerintah Maroko dan pembiayaan proyek Belt and Road Initiative China.
Pungutan itu ditambahkan ke bea anti-dumping yang telah berlaku sejak Januari 2023 sehingga total tarif bagi sejumlah eksportir Maroko melampaui 40%.
Kasus pelek aluminium kini dipandang sebagai preseden bagi langkah penegakan aturan perdagangan yang lebih luas. Lima negara anggota UE dilaporkan telah mengajukan dorongan kepada Komisi Eropa agar proses penerapan tarif dan penindakan terhadap praktik penghindaran bea masuk dapat dilakukan lebih cepat.
Komisioner Perdagangan UE Maroš Šefčovič juga disebut tengah menyiapkan tarif tambahan terhadap sejumlah produk kimia dan mesin asal China. Selain itu, Brussels mempertimbangkan kebijakan diversifikasi rantai pasok guna mengurangi ketergantungan terhadap industri China.
Persaingan dagang antara UE dan China sebelumnya telah memanas setelah blok tersebut memberlakukan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China pada 2024. Besaran tarif mencapai hingga 35,3% di atas tarif impor standar 10%.
Pada Januari 2026, Brussels dan Beijing mencapai kesepakatan yang memungkinkan sebagian produsen kendaraan mengganti tarif tersebut dengan komitmen harga minimum.
Meski demikian, para pejabat Eropa masih mengkhawatirkan masuknya komponen China yang mendapat subsidi besar melalui negara ketiga, termasuk Maroko, setelah menjalani proses pengolahan yang terbatas.
Data perdagangan UE menunjukkan defisit perdagangan blok tersebut dengan China mencapai sekitar €1 miliar per hari, menjadikan isu ketahanan industri dan rantai pasok tetap menjadi perhatian utama dalam hubungan ekonomi kedua pihak.

0Komentar