Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani selama pertemuan bilateral di sela-sela KTT G7, 16 Juni 2026, di Evian-les-Bains, Prancis. (AP/Julia Demaree Nikhinson)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanfaatkan momen KTT G7 di Évian-les-Bains, Prancis, untuk melontarkan peringatan keras kepada Iran soal senjata nuklir sekaligus mengkritik cara Israel menangani konflik di Lebanon, di sela pertemuannya dengan Emir Qatar pada Selasa.

Pertemuan bilateral Trump dengan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani berlangsung di tengah KTT G7 ke-52 yang digelar 15–17 Juni 2026. Di hadapan wartawan, Trump memuji peran Qatar yang dinilainya krusial dalam memfasilitasi kesepakatan awal antara AS dan Iran.

"Anda membantu kami dengan keberanian yang luar biasa," ujar Trump kepada Emir Qatar. "Anda akan selalu menjadi sahabat saya."

Emir, dari pihaknya, memproyeksikan perdagangan dan investasi bilateral antara Qatar dan AS akan melampaui US$1 triliun, melanjutkan perjanjian senilai US$1,2 triliun yang sudah ditandatangani kedua negara saat tur Teluk Trump pada Mei 2025.

Setelah memuji Qatar, Trump langsung beralih ke Iran dengan nada yang jauh berbeda. Ia memperingatkan bahwa "semua neraka akan turun" atas Teheran apabila Iran nekat mengembangkan, membeli, atau memperoleh senjata nuklir dengan cara apapun.

"Mereka tidak akan mengembangkannya. Mereka tidak akan membelinya. Mereka tidak akan melakukan apa pun dengan itu. Dan jika mereka melakukannya, mereka akan menanggung konsekuensi yang luar biasa dahsyat," kata Trump.

Trump juga menyebut bahwa ia secara pribadi mendorong agar rumusan perjanjian diperluas, tidak hanya mencakup larangan pengembangan senjata, tetapi juga pembelian atau perolehan melalui jalur lain.

Peringatan itu muncul tak lama setelah memorandum of understanding (MOU) antara Washington dan Teheran ditandatangani secara digital pada Minggu lalu. MOU tersebut memperpanjang gencatan senjata yang ada selama 60 hari, membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas tanker Qatar, dan membuka perundingan menuju penyelesaian permanen. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung Jumat ini di resor Bürgenstock, Swiss, dengan kehadiran Wakil Presiden JD Vance dari pihak AS dan Mohammad Baqer Qalibaf sebagai negosiator utama Iran.

Trump juga membantah laporan yang menyebut AS berkomitmen menyerahkan US$300 miliar kepada Iran sebagai bagian dari kerangka kesepakatan. "Kami sama sekali tidak menginvestasikan uang di Iran, dan rumor yang beredar kemarin itu sungguh tidak masuk akal," tegasnya.

Sebelumnya, Vance sempat mengakui kemungkinan adanya dana rekonstruksi yang dikelola negara-negara Gulf Cooperation Council, meski menegaskan Iran tidak akan menerima pembayaran di muka. Financial Times melaporkan bahwa dana dimaksud akan dirancang untuk investasi dari perusahaan swasta, bukan sebagai transfer langsung antarpemerintah.

Tak kalah tajam, Trump juga menyuarakan ketidakpuasannya terhadap Israel. Ia menyebut serangan Israel ke Beirut yang terjadi beberapa jam sebelum MOU ditandatangani sebagai tindakan yang tidak ia restui.

"Saya tidak senang dengan cara Israel menangani diri mereka sendiri dengan Lebanon dan Hezbollah," kata Trump. Ia menyebut perang melawan Hezbollah "terlalu lama" dan "terlalu mematikan," sekaligus mendorong agar Suriah yang mengambil alih perlawanan terhadap kelompok yang didukung Iran itu.

"Bibi harus lebih bertanggung jawab soal Lebanon," tambahnya, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Trump bahkan memperingatkan bahwa Israel akan "dihapus dari muka bumi" tanpa dukungan AS, dan menyebut kampanye Israel melawan Hezbollah nyaris menggagalkan negosiasi damai dengan Teheran yang sudah dirintis dengan susah payah.