![]() |
| AS Donald Trump berbicara dengan anggota media di atas Air Force One dalam perjalanan ke Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, 17 April 2026. AP PHOTO |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Teheran belum mau menyepakati perjanjian damai untuk mengakhiri konflik karena faktor kebanggaan negara tersebut. Kendati demikian, Trump meyakini Iran pada akhirnya tidak memiliki pilihan lain kecuali berunding dengan AS.
Kebuntuan diplomasi selama tiga bulan terakhir ini telah mengguncang pasar energi global dan menekan ekonomi domestik AS menjelang pemilu paruh waktu.
"Mereka kuat, mereka bangga," ujar Trump dalam wawancara eksklusif NBC News yang ditayangkan di program Meet the Press, Jumat (5/6). Meski melontarkan penilaian tersebut, pernyataan Trump belakangan kerap memantik kebingungan karena sinyal yang dikirimkannya sering kali saling bertentangan.
Saat bertolak ke Chippewa Falls, Wisconsin, untuk menghadiri diskusi sektor pertanian, Trump sempat memberikan penilaian optimistis kepada para wartawan dengan menyebut situasi dengan Iran berjalan cukup baik. Namun, dalam penerbangan di atas Air Force One, ia cenderung mengelak dan menolak merinci detail perkembangan negosiasi terbaru, meskipun berulang kali menjanjikan penyelesaian konflik yang datang cepat.
Optimisme Trump ini kontras dengan realitas di lapangan. Perundingan damai sebenarnya telah kandas pada akhir Mei lalu setelah Iran menarik diri dari meja negosiasi. Laporan Reuters menyebutkan keputusan Teheran dipicu oleh langkah Israel yang mengintensifkan kampanye pengeboman di Lebanon.
"Perang ini hanya akan berakhir jika berakhir pula di Lebanon," tutur Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat. Teheran dengan tegas mengaitkan setiap kesepakatan damai dengan dinamika konflik regional yang lebih luas.
Laporan The Atlantic mengungkapkan draf kesepakatan awal sebenarnya sudah berada di meja Trump sejak akhir Mei. Namun, kombinasi ketidakpercayaan kedua pihak serta desakan Trump untuk reformasi regional secara menyeluruh membuat dokumen itu urung ditandatangani.
Di dalam negeri AS, dampak ekonomi dari konflik yang bergolak selama tiga bulan ini kian nyata. Rata-rata harga bensin nasional telah menyentuh US4,24 per galon, melonjak hampir 35% dibandingkan tahun lalu berdasarkan data AAA.
Lonjakan harga energi ini diperkirakan telah menguras kantong rumah tangga AS hingga US100 miliar, menurut hitungan Moody's Analytics.
Kondisi ekonomi yang memburuk ini memicu kecemasan di kalangan pakar strategi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Apalagi, para analis energi memprediksi pemulihan jalur pasokan minyak di Selat Hormuz baru bisa terjadi pada kuartal keempat tahun ini.
Guna meningkatkan tekanan, Departemen Keuangan AS langsung menjatuhkan sanksi baru yang membidik jaringan perbankan dan armada bayangan (shadow fleet) milik Iran.
"Perekonomian Iran sedang terpuruk dan kekuatan militernya luluh lantak," jelas Menteri Keuangan Scott Bessent mengenai kebijakan pembatasan ekonomi terbaru tersebut.
0Komentar