Donald Trump saat menghadiri pertemuan puncak dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Agung Rakyat di Beijing pada Mei 2026. | WHITE HOUSE

Donald Trump secara langsung mendesak Presiden China Xi Jinping untuk menggunakan pengaruh Beijing atas Moskwa guna mendorong dimulainya kembali perundingan damai Rusia-Ukraina. Permintaan itu disampaikan dalam pertemuan puncak dua hari antara keduanya di Beijing pada 14–15 Mei, dan rinciannya terus merembes ke publik beberapa pekan setelah pertemuan berlangsung.

Trump secara khusus meminta Xi memfasilitasi pembicaraan langsung antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Desakan ini mencerminkan frustrasi Washington yang kian menumpuk terhadap negosiasi yang mandek, kini memasuki tahun kelima sejak perang pecah.

Bukan kali pertama Trump melontarkan permintaan serupa. Sejauh Oktober 2025, ia sudah pernah menyatakan kepada wartawan di atas Air Force One bahwa dirinya sangat mengharapkan keterlibatan China. 

"Saya akan sangat menghargai jika China membantu kami dengan Rusia," ujarnya kala itu, seraya menambahkan bahwa Xi memiliki kepentingan yang sama dalam melihat konflik ini diselesaikan.

Isu Ukraina hanyalah satu dari sejumlah topik berat yang dibahas dalam pertemuan Beijing tersebut, bersama perdagangan, Iran, dan Taiwan. Financial Times melaporkan bahwa Xi secara pribadi menyampaikan kepada Trump bahwa Putin mungkin suatu hari akan "menyesali" invasinya ke Ukraina. Baik Beijing maupun Washington belakangan membantah laporan itu, dan Kremlin pun menolaknya.

Di lapangan diplomasi, situasinya masih buntu. Pembicaraan trilateral yang melibatkan negosiator Amerika Serikat dan Ukraina memang sempat berlangsung di Jenewa pada akhir Februari, namun pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy belum juga terwujud. Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa kedua pihak harus mencapai kesepakatan sebelum Juni 2026.

Zelenskyy pada hari Minggu menegaskan bahwa para pemimpin dunia perlu memberikan "tekanan lebih besar," termasuk melalui sanksi, kepada Putin. Pernyataan itu menegaskan posisi Kyiv bahwa Moskwa belum bernegosiasi dengan itikad baik.

Washington meyakini Beijing punya kartu yang bisa dimainkan. Menurut intelijen Ukraina, China memasok sekitar 80% drone, cip elektronik, dan komponen dual-use lainnya yang vital bagi mesin perang Rusia. Ketergantungan itulah yang diyakini AS bisa dipakai Beijing sebagai daya ungkit untuk mendorong Putin ke meja perundingan.

Beijing selama ini menjaga hubungan publik yang erat dengan Moskwa sejak invasi besar-besaran dimulai pada Februari 2022, sekaligus memosisikan diri sebagai pihak netral yang terbuka terhadap perdamaian. 

Para analis mencatat bahwa kemitraan strategis China dengan Rusia dan kepentingannya dalam melawan pengaruh Barat menjadi faktor yang memperumit kalkulasi Beijing. Putin dan Xi diperkirakan akan bertemu dalam beberapa pekan ke depan, dengan agenda utama mempererat kerja sama energi antara kedua negara.