Trump di Kantor Oval. | ANNA MONEYMAKER/WHITE HOUSE
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran seharusnya tetap diizinkan memiliki sebagian rudal balistiknya, meski Washington dan Teheran telah mencapai nota kesepahaman terkait program nuklir. Pernyataan itu disampaikan Trump saat menghadiri KTT G7 di Évian-les-Bains, Prancis, dan dinilai berbeda dengan tuntutan Israel yang menginginkan pelucutan total kemampuan misil Iran.

Trump menegaskan rudal konvensional tidak dapat disamakan dengan senjata nuklir. Menurutnya, fokus utama perjanjian yang tengah disiapkan adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, bukan menghapus seluruh kemampuan pertahanannya.

Pernyataan tersebut muncul ketika AS bersiap meresmikan nota kesepahaman dengan Teheran yang disebut telah ditandatangani secara elektronik oleh kedua pihak. Berdasarkan laporan Time yang mengutip Departemen Luar Negeri Federal Swiss, penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di resor Bürgenstock, Swiss, pada Jumat.

Draf perjanjian yang beredar di sela-sela KTT G7 disebut tidak mencantumkan program rudal balistik Iran maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan. Karena itu, isu tersebut akan dibahas dalam jalur negosiasi terpisah.

Trump mengatakan AS akan membuka pembicaraan paralel bersama negara-negara Teluk untuk membahas program rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok seperti Hizbullah.

Menanggapi tuntutan agar Iran dilucuti dari seluruh misilnya, Trump menilai pendekatan tersebut tidak realistis. "Mereka harus punya karena orang lain punya. Kamu harus punya," kata Trump kepada wartawan.

Ia kemudian membandingkannya dengan negara-negara lain di kawasan. "Mereka akan membiarkan Arab Saudi punya misil, tapi Iran tidak boleh? Tidak bisa begitu," tambahnya.

Trump juga meremehkan ancaman rudal balistik konvensional dibandingkan senjata nuklir. "Misil bukan masalahnya… Mereka sedikit merusak suatu lokasi, tapi tidak meledakkan planet," ujarnya.

Menurut laporan Reuters, Trump menyebut pembicaraan mengenai rudal balistik dan kelompok proksi sebagai "upaya paralel" terhadap kesepakatan AS-Iran yang lebih luas. Pernyataan bersama G7 yang turut didukung Washington juga menyerukan perundingan lanjutan yang "kuat dan diplomatik" untuk menangani isu-isu yang belum tercakup dalam nota kesepahaman tersebut.

Israel telah menerima draf perjanjian yang sama, meski sebelumnya CNN melaporkan pemerintahan Trump sempat menahan akses dokumen tersebut karena khawatir rincian kesepakatan akan bocor.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dirinya sejalan dengan Trump terkait larangan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Namun, ia mengakui belum mengetahui seluruh isi kesepakatan yang tengah difinalisasi.

"Saya sepenuhnya sepakat" dengan Trump bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, kata Netanyahu.

Laporan BBC menyebut kesepakatan tersebut menimbulkan tekanan politik bagi Netanyahu karena selama ini ia dikenal sebagai salah satu pemimpin asing yang memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan Washington terkait Iran.

Di dalam negeri, Trump juga menghadapi kritik dari sebagian kalangan Partai Republik. The Guardian melaporkan sejumlah pendukung Partai Republik mempertanyakan apakah kesepakatan itu telah memenuhi tujuan awal yang ditetapkan pemerintahan Trump ketika konflik dengan Iran meningkat.

Sejumlah pemimpin G7 turut mendukung memorandum tersebut, tetapi meminta negara-negara Eropa dilibatkan dalam tahap negosiasi berikutnya. Iran diperkirakan tidak akan menerima usulan tersebut.

Ketika ditanya mengenai mekanisme penegakan perjanjian jika Iran melanggar komitmennya, Trump menyatakan AS akan mengandalkan ancaman militer sebagai bentuk pencegahan.

"Apalagi pilihan saya? Haruskah saya bilang, Saya akan bawa kamu ke pengadilan?" ujar Trump. "Kami akan melancarkan pengeboman besar-besaran jika mereka melanggar ketentuan perjanjian ini."