![]() |
| Donald Trump berjabat tangan dengan Lee Jae Myung, Presiden Korea Selatan, saat pertemuan puncak di Gyeongju. | YONHAP |
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil peran utama dalam mendorong penyelesaian damai persoalan Korea Utara. Permintaan itu disampaikan saat keduanya bertemu di sela KTT G7 di Évian-les-Bains, Prancis.
Permintaan tersebut muncul ketika perhatian dunia masih tertuju pada upaya diplomasi AS di berbagai kawasan konflik. Di tengah spekulasi bahwa Washington dapat kembali menghidupkan jalur dialog dengan Pyongyang, Trump juga sempat mengunggah foto pertemuannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Singapura pada 2018.
Menurut kantor kepresidenan Korea Selatan, percakapan bermula ketika Trump menanyakan perkembangan hubungan antara Seoul dan Pyongyang. Lee kemudian menyampaikan harapannya agar Trump kembali memainkan peran diplomatik seperti yang pernah ia lakukan dalam sejumlah konflik internasional.
Dalam pernyataannya, kantor kepresidenan Korea Selatan mengatakan Lee meminta Trump memimpin upaya penyelesaian isu Korea Utara secara damai.
"Presiden Lee meminta agar ia (Trump) memimpin dalam mencapai resolusi damai untuk masalah Korea Utara, seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah," kata kantor kepresidenan Korea Selatan.
Trump disebut menyambut permintaan tersebut dan menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam upaya diplomatik tersebut.
"Presiden Trump menyatakan komitmennya untuk bekerja menuju resolusi masalah Korea Utara," lanjut pernyataan itu.
Sejak menjabat sebagai presiden pada 2025, Lee mengusung pendekatan yang lebih terbuka terhadap Korea Utara dibanding pendahulunya, Yoon Suk Yeol. Pemerintahannya berupaya menurunkan ketegangan di Semenanjung Korea melalui berbagai langkah, termasuk mendorong kembali dialog antar-Korea.
Namun, pendekatan tersebut belum mendapat respons positif dari Pyongyang. Korea Utara tetap menyebut Korea Selatan sebagai musuh utama dan berulang kali menegaskan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir yang tidak dapat diubah. Dalam beberapa kesempatan terakhir, Pyongyang juga mengkritik kerja sama keamanan antara Seoul dan Washington.
Hubungan AS dan Korea Utara sendiri sempat memasuki fase diplomasi intensif ketika Trump bertemu Kim Jong Un sebanyak tiga kali pada 2018 dan 2019. Pertemuan bersejarah itu menghasilkan pembukaan jalur komunikasi langsung antara kedua negara, tetapi proses negosiasi akhirnya mandek setelah pertemuan di Hanoi gagal mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi dan pencabutan sanksi.
Meski demikian, sejumlah pihak di Seoul masih melihat Trump sebagai sosok yang memiliki akses politik langsung kepada Kim. Karena itu, peran Washington dinilai tetap penting dalam setiap upaya membuka kembali dialog dengan Pyongyang.
Sejumlah pengamat menilai peluang terjadinya pertemuan baru antara Trump dan Kim masih terbatas. Hubungan Korea Utara dengan Rusia yang semakin erat serta keyakinan Pyongyang terhadap status nuklirnya membuat insentif untuk kembali ke meja perundingan dinilai semakin kecil.
"Dari perspektif Korea Utara, praktis tidak ada alasan untuk bertemu dengan Amerika Serikat," kata Yang Moo-jin, mantan presiden Universitas Studi Korea Utara di Seoul.
0Komentar