aplikasi Yuan Digital (e-CNY) di layar ponsel, yang merupakan mata uang digital resmi yang dikeluarkan oleh bank sentral China. | CLAUDE

Upaya Beijing menantang hegemoni dolar Amerika Serikat dalam sistem keuangan global melangkah ke fase baru. Pusat Operasi Yuan Digital Internasional di bawah naungan People's Bank of China (PBOC) resmi menggandeng 26 lembaga keuangan untuk mengoperasikan platform pembayaran lintas batas berbasis yuan digital (e-CNY) pada Selasa (16/6/2026) di Shanghai.

Lewat perjanjian ini, puluhan bank tersebut langsung terintegrasi ke dalam Cross-Border e-CNY Transfer Services (CBETS), sebuah platform yang beroperasi tanpa henti 24 jam sehari. 

Sistem yang diberi nama "Shubida" ini memangkas waktu penyelesaian transaksi antarnegara dari hitungan minggu pada sistem konvensional menjadi hanya beberapa detik, sekaligus menekan biaya operasional hingga 50%. Langkah agresif ini sulit dilepaskan dari ambisi besar China mendobrak ketergantungan dunia pada jaringan SWIFT yang dikontrol Barat. 

Berbekal teknologi blockchain yang tersentralisasi melalui pintu masuk tunggal di Hong Kong, CBETS menawarkan jalur alternatif yang lebih kebal dari risiko sanksi ekonomi geopolitik. Kerapuhan sistem keuangan tradisional memang makin terasa pasca-pemblokiran akses SWIFT terhadap bank-bank Rusia pada 2022 yang sempat memukul telak ekonomi Moskwa.

Daya tarik e-CNY tampaknya cukup memantik minat pelaku industri. Dari 26 institusi yang meneken kesepakatan, Standard Chartered Bank (China) tercatat sebagai bank asing pertama yang masuk ke dalam jaringan ini. Sisanya didominasi kantor cabang bank raksasa Asia di berbagai negara, mulai dari ICBC, Bank of China, hingga Bank of Communications yang tersebar dari kawasan ASEAN hingga Timur Tengah.

Melihat pergeseran arsitektur keuangan ini, Chief Executive Officer Standard Chartered Bank (China) Jean Lu menilai inovasi teknologi finansial telah mengubah wajah sistem pembayaran global secara permanen dan membuka ruang baru bagi adopsi yuan.

"Pengalaman pembayaran lintas batas yang efisien, nyaman, dan sesuai aturan akan semakin meningkatkan penggunaan yuan secara internasional," ujar Lu dalam keterangan resminya.

Pihak perbankan Asia juga memandang platform ini bukan sekadar instrumen pelengkap, melainkan fondasi perombakan infrastruktur dasar perbankan masa depan.

"Pengaturan ini menandai integrasi awal dan mendalam bank dalam arsitektur tingkat atas yuan digital," kata Executive Director & Deputy CEO ICBC (Asia), Gu Xuan.

Ekspansi e-CNY sejatinya tidak datang tiba-tiba. Presiden Xi Jinping dalam sebuah artikel di jurnal Qiushi awal tahun ini telah menginstruksikan agar yuan berevolusi menjadi mata uang kuat untuk perdagangan internasional, investasi, dan cadangan devisa global. Kebijakan ini diperkuat dengan aturan baru per 1 Januari 2026 yang mengizinkan saldo dompet e-CNY menerima bunga, otomatis mengubah statusnya dari sekadar uang elektronik menjadi mata uang deposit digital.

Program percontohan lintas negara juga sudah gencar divalidasi sejak 2024, melibatkan jaringan mBridge yang mencakup kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Thailand. 

Menurut sejumlah sumber industri yang dikutip Reuters, rentetan manuver Beijing ini pada akhirnya memaksa sistem tradisional bersikap defensif.

Pada Oktober 2025 lalu, jaringan SWIFT akhirnya ikut mengintegrasikan blockchain bersama 30 bank internasional demi meredam ancaman eksistensial dari dominasi Central Bank Digital Currency (CBDC) seperti yuan digital yang terus membesar.