Boeing E-3 Sentry, sebuah pesawat sistem peringatan dan kontrol udara (AWACS). | AIR FORCE

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengambil langkah drastis dengan mengalokasikan kembali dana US$ 1,55 miliar untuk pengadaan pesawat sistem peringatan dini dan kendali udara (Airborne Early Warning and Control/AEW&C) E-7 Wedgetail pada tahun fiskal 2027. Keputusan ini memutar balik rencana awal Pentagon pada 2025 yang sempat ingin membatalkan program pesawat tersebut.

Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR menjelaskan bahwa suntikan dana ini ditarik dari dua pos berbeda. Sebanyak US$ 651 juta dialihkan dari anggaran pengadaan pesawat Angkatan Laut, ditambah US$ 899 juta dari pos pengadaan Angkatan Udara.

Korbankan proyek jet tempur AS

Perubahan struktur anggaran ini mempertegas manuver Washington yang kini memprioritaskan modernisasi kemampuan Angkatan Udara. Sejumlah program andalan Angkatan Laut terpaksa disingkirkan dari daftar prioritas utama. 

Pesawat Angkatan Laut AS (USN) F/A-18E Super Hornet, Strike Fighter Squadron 115 (VFA-115), Naval Air Station (NAS) Lemoore, California (CA). | Phillip A. McDaniel/ U.S. NAVY

Proyek pesawat tempur generasi keenam F/A-XX yang disiapkan sebagai penerus F/A-18 Super Hornet bahkan dihentikan pendanaannya. Ruang fiskal tersebut diberikan untuk memuluskan pengembangan pesawat tempur F-47 milik Angkatan Udara sekaligus mempercepat kedatangan E-7. 

Pentagon berhitung keunggulan manuver jet tempur generasi terbaru tidak akan banyak berarti dalam operasi udara modern jika tidak didukung sistem sensor yang mampu mendeteksi ancaman dari jarak jauh.

Ancaman J-20 China

Kebutuhan akan E-7 menjadi sangat krusial di tengah memburuknya kondisi armada E-3 Sentry yang selama ini menjadi tulang punggung peringatan dini AS. 

Pesawat yang mulai bertugas sejak akhir 1970-an itu mencatat penurunan tingkat kesiapan operasional yang tajam berbarengan dengan melonjaknya ongkos pemeliharaan tahunan. Masalah utama E-3 bukan sekadar usia fisik, melainkan ketidakmampuan teknologinya meladeni jet tempur siluman modern seperti J-20 milik China. 

Chengdu J-20 "Mighty Dragon", jet tempur siluman generasi kelima buatan Tiongkok. | GLOBAL TIMES

Desain minim jejak radar (radar cross section), pelapis material penyerap gelombang (radar absorbent material), serta tata letak ruang senjata internal membuat J-20 leluasa mendekati wilayah operasi tanpa terendus radar konvensional E-3. 

Keterlambatan deteksi ini membuat pilot AS kehilangan momentum krusial untuk mengidentifikasi lawan, mengatur taktik, maupun melancarkan serangan lebih awal.

Mantan Komandan Angkatan Udara Pasifik Jenderal Kenneth Wilsbach mengakui langsung kelemahan tersebut setelah pesawat tempur AS berhadapan dengan J-20 pada Maret 2022.

"Sensor yang kami gunakan pada E-3 tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman abad ke-21, terutama platform siluman seperti J-20. Pesawat itu tidak dapat melihat target cukup jauh untuk memberikan keuntungan kepada pilot kami. Karena itulah saya ingin memiliki E-7," tegas Wilsbach.

Tertinggal dari radar KJ-3000

Desakan modernisasi udara AS tidak hanya datang dari pengembangan pesawat tempur, tetapi juga kemajuan pesat sensor udara lawan. 

Laporan Military Watch Magazine pada Kamis (24/6/2026) mengungkapkan China kini telah mengoperasikan pesawat AEW&C generasi baru, yakni KJ-500 dan KJ-3000, yang menghadirkan kemampuan deteksi jauh melampaui armada tua Washington.

Ketergantungan AS terhadap pesawat peringatan dini secara keseluruhan jauh lebih besar dibanding para pesaingnya. Jet tempur mutakhir Rusia maupun China lazimnya sudah dibekali radar internal berukuran besar berdaya jangkau panjang. 

Sebagai gambaran, penampang radar yang dibawa F-35 milik AS diperkirakan hanya sekitar sepertiga dari ukuran radar pada jet tempur J-15B dan J-16 milik China.

pesawat peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C) Shaanxi KJ-500 milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China. | CGTN

Kehadiran KJ-3000 secara khusus menghadirkan lompatan teknologi yang agresif bagi Beijing. Pesawat ini memadukan kubah radar berputar dengan antena Active Electronically Scanned Array (AESA) berarsitektur digital. 

Sistem tersebut memberikan cakupan pengawasan 360 derajat secara penuh dengan pemrosesan data sangat cepat, memungkinkannya melacak ratusan target sekaligus serta mendeteksi objek siluman dari jarak jauh. 

KJ-3000 didesain berfungsi lebih dari sekadar "mata" udara, melainkan pusat komando yang menghubungkan jet tempur, kapal perang, rudal jarak jauh, hingga sistem pertahanan udara dalam satu jaringan tempur terpadu.

E-7 Wedgetail yang disiapkan AS memang membawa radar Multi-role Electronically Scanned Array (MESA) dengan pemrosesan sinyal digital yang lebih peka terhadap target berpenampang radar kecil. Namun, ukuran radar pada E-7 secara teknis lebih mendekati kelas KJ-500. 

Angkatan Udara AS masih menghadapi tekanan anggaran yang membuat pengembangan sistem peringatan dini setara dengan kecanggihan KJ-3000 milik China belum dapat terealisasi dalam waktu dekat.