![]() |
| Pemandangan udara dari Lapangan Santo Petrus (St. Peter's Square) yang ikonik di Kota Vatikan. | UNSPLASH/CALEB MILLER |
Paus Leo XIV kembali bersuara soal kecerdasan buatan. Lewat unggahan di X pada Kamis, pemimpin Gereja Katolik itu menegaskan bahwa AI tidak bisa diperlakukan seolah bebas dari nilai atau pertimbangan etika.
"Kita tidak bisa menganggap #AI sebagai sesuatu yang netral secara moral," tulis paus melalui akun resmi @Pontifex-nya. "Sejatinya, setiap alat teknis mewujudkan pilihan dan prioritas melalui apa yang diukur, diabaikan, dan dioptimalkan."
Pernyataan itu bukan sekadar komentar lepas. Leo XIV menyerukan agar evaluasi etika terhadap AI menjangkau lebih jauh dari sekadar hasil akhirnya, termasuk cara sistem dirancang dan nilai-nilai apa yang tertanam dalam data serta kerangka yang mengendalikannya.
Soal akuntabilitas, paus juga menuntut kejelasan. "Harus dimungkinkan untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas keputusan-keputusan tersebut, memberikan justifikasi atasnya, memantau hasilnya, dan bila perlu, menggugatnya serta memperbaiki kerugian yang ditimbulkan," tulisnya.
Unggahan itu mengambil langsung dari ensiklik perdana Leo XIV, Magnifica Humanitas, dokumen setebal 43.000 kata yang dirilis di Vatikan pada 25 Mei. Ensiklik ini ditandatangani pada 15 Mei, bertepatan dengan peringatan Rerum Novarum, dan menjadi pengajaran kepausan pertama yang sepenuhnya didedikasikan untuk isu AI.
Dalam dokumen tersebut, Leo XIV memperingatkan bahwa perlombaan pengembangan AI berisiko menjadi "Menara Babel baru" yang memusatkan kekuasaan, mengikis kebenaran, dan mereduksi manusia menjadi sekadar kumpulan data.
Salah satu pernyataannya yang paling tajam berbunyi, "Tidak ada algoritma yang dapat membuat perang menjadi sesuatu yang dapat diterima secara moral." Dokumen itu juga mendorong regulasi terhadap perusahaan AI, perlindungan bagi pekerja, dan penjagaan ruang pendidikan anak-anak.
Sebulan setelah terbit, Magnifica Humanitas memantik respons luas dari komunitas akademik dan keagamaan. Universitas Georgetown menggelar diskusi pada 3 Juni membahas implikasi dokumen tersebut. Diosis San Jose mengadakan acara bertajuk "Where Rome Meets Silicon Valley" pada 6 Juni di Gereja Our Lady of Peace, Santa Clara, California. Sebuah panel tentang AI dan martabat manusia yang diorganisir oleh Media Education Lab dijadwalkan pada 6 Juli.
Etikawan Charles Camosy menafsirkan sikap paus bukan sebagai penolakan terhadap teknologi itu sendiri. "Gunakan AI secara sengaja, dengan alasan yang tepat, dengan pemahaman yang benar, dan bukan dalam perlombaan ke jurang kehancuran di mana kita melaju secepat mungkin tanpa arah," kata Camosy.
0Komentar