Taipei diproyeksikan bakal mengantongi lebih dari 1.800 rudal anti-kapal pada awal 2029. Langkah masif ini diambil demi memperkuat benteng pertahanan pulau tersebut dari potensi blokade maupun invasi militer China.
Strategi pertahanan asimetris ini bertumpu pada kesiapan Taiwan menahan gempuran awal dan langsung memukul balik armada penyerang. Senjata-senjata ini dirancang fleksibel agar bisa diluncurkan dari jet tempur, kapal perang, hingga peluncur bergerak di darat. Sumbu utama kekuatan baru ini mengandalkan kombinasi pasokan Amerika Serikat (AS) dan produksi domestik.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa Taipei telah menerima 450 rudal Harpoon buatan Boeing, dengan target pengiriman mencapai 850 unit pada awal 2029. Informasi yang dibocorkan dua pejabat senior Taiwan ini mengindikasikan amunisi impor tersebut bakal berpadu dengan sekitar 1.000 rudal jelajah anti-kapal Hsiung Feng II dan Hsiung Feng III rakitan lokal.
Selain menyiagakan hampir 1.850 rudal utama, para pakar militer Taiwan mengonfirmasi persenjataan tersebut bakal diperkuat oleh barisan drone maritim dan udara, serta rudal jarak pendek dan menengah. Penambahan armada bergerak ini diyakini para analis mampu mengubah postur pertahanan pulau sekaligus mengulur waktu bagi pasukan sekutu untuk merespons andai krisis pecah.
Di tengah ambisi penguatan mandiri ini, Taiwan sebenarnya masih menunggu kepastian dari Presiden AS Donald Trump terkait paket penjualan senjata terpisah senilai US$14 miliar. Meski Kongres AS sudah memberi lampu hijau sejak Januari, transfer senjata terbesar sepanjang sejarah pulau tersebut kini tertahan di meja presiden.
Trump sendiri secara terbuka mengaitkan kesepakatan ini dengan dinamika hubungannya dengan Beijing. "Kartu negosiasi yang sangat berguna," ujar Trump kepada Fox News pada Mei lalu, merujuk pada diplomasinya dengan Presiden China Xi Jinping pascapertemuan puncak kedua pemimpin.
Hambatan pengiriman ini rupanya juga berkelindan dengan prioritas militer Washington di kawasan lain. Penjabat Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao menyampaikan kepada komite Senat bahwa penjualan militer asing ke Taiwan sedang "dijeda" guna menghemat amunisi untuk operasi AS melawan Iran. Penjualan militer tersebut baru akan dilanjutkan kembali ketika pihak pemerintahan menganggapnya "perlu".
Laporan CNN mengindikasikan bahwa sekalipun Trump segera meneken kesepakatan tersebut, beberapa sistem persenjataan berat seperti baterai pertahanan udara Patriot diprediksi baru bisa dikerahkan paling cepat pada 2028.
Kantor Kepresidenan Taiwan sendiri mengaku telah mengendus kabar penundaan ini sejak akhir Mei, namun mereka menegaskan belum menerima pemberitahuan resmi mengenai penghentian permanen dari pihak AS.
0Komentar