Prajurit mengoperasikan sistem "anjing" otonom dan kendaraan tempur robot. | U.S. NAVY/Samarion Hicks

Lembaga riset militer terkemuka Taiwan memperkenalkan tiga model robot anjing patroli bersenjata yang dirancang untuk memperkuat penjagaan di pos-pos pulau terpencil milik negara itu di Laut China Selatan, di tengah meningkatnya tekanan maritim dari China.

National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST) memamerkan robot-robot tersebut dalam acara khusus media di Taipei, Selasa. Ketiganya dibangun di atas platform berkaki empat Vision 60 yang dikembangkan oleh Ghost Robotics, perusahaan asal Amerika Serikat yang juga memasok kebutuhan militer AS.

Masing-masing varian membawa sistem yang berbeda. Yang pertama dilengkapi LiDAR dan pencitraan termal untuk patroli, pemetaan 3D, serta penghindaran rintangan. Varian kedua mengusung sistem pengintaian electro-optical yang mampu mencari, mengidentifikasi, dan melacak target sekaligus mengirim data langsung ke sistem komando. Varian ketiga yang paling mencolok menggabungkan kemampuan pengintaian dan serangan melalui stasiun senjata yang dikendalikan dari jarak jauh, cocok untuk pertahanan pesisir maupun peperangan perkotaan.

Robot-robot ini berbobot sekitar 52,4 kilogram, sanggup membawa muatan hingga 10 kilogram, melaju dengan kecepatan 2,5 meter per detik, dan beroperasi selama delapan hingga sepuluh jam di suhu antara minus 40 hingga 55 derajat Celsius.

Pemaparan ini bukan muncul dari ruang hampa. Beberapa pekan sebelumnya, ketegangan memanas di sekitar Kepulauan Pratas atau Dongsha setelah penjaga pantai Taiwan menghadapi kapal penjaga pantai China yang mendekati kepulauan itu pada akhir Mei, memicu kebuntuan yang berlangsung beberapa hari. 

Badan Penjaga Pantai Taiwan mencatat, kapal-kapal China telah beralih dari sekadar melintas sesekali menjadi lebih dari 30 kali transit per tahun sejak Februari 2024.

Jen Kuo-kuang, Kepala Divisi Penelitian Sistem Rudal dan Roket NCSIST, menyebut ada sinyal minat dari pihak militer meski belum ada pesanan resmi. 

"Militer telah mengungkapkan keinginannya terhadap peralatan semacam ini meskipun belum mengajukan pesanan pembelian resmi," ujarnya, seraya menambahkan bahwa korps marinir melihat kebutuhan mendesak untuk patroli penjaga pantai di Kepulauan Nansha, Dongsha, dan Spratly.

NCSIST menyatakan robot-robot ini bisa saling terhubung, berbagi informasi, dan mengoordinasikan operasi. Ke depan, mereka berpotensi diintegrasikan dengan kendaraan darat tak berawak dan drone untuk membentuk apa yang disebut lembaga itu sebagai "jaringan medan perang tiga dimensi." 

Dengan skema itu, paparan personel di garnisun pulau-pulau terpencil yang oleh sejumlah analis pertahanan dipandang sebagai sasaran awal yang paling mungkin diserang dalam skenario militer China terhadap Taiwan bisa ditekan seminimal mungkin.