Roket SpaceX Falcon 9 yang dipajang di markas besar perusahaan di Hawthorne, California. | MICHAEL YANOW/NURPHOTO

Langkah agresif diambil SpaceX menjelang penawaran umum perdana (IPO) historisnya dengan memblokir akses pengguna dari Tiongkok daratan dan Hong Kong ke situs web resmi serta dokumen pemasaran perusahaan. Pemblokiran berbasis geografis ini memantik sorotan tajam karena bertepatan dengan dimulainya roadshow investor global di New York pada Kamis (4/6).

Laporan Reuters menyebutkan, para peminat investasi di kedua wilayah tersebut mendapati pesan "Error 1009" saat mencoba mengakses informasi krusial SpaceX. Notifikasi dari Cloudflare ini jamak muncul ketika pemilik situs sengaja menyaring lalu lintas digital berdasarkan lokasi geografis tertentu. 

Langkah protektif ini mengisolasi investor Tiongkok dari pusaran penawaran saham yang didistribusikan ke hampir seluruh pasar utama Asia.

Presiden Hong Kong Technology Federation, Francis Fong, menilai pembatasan semacam ini sepenuhnya merupakan hak prerogatif korporasi. "Pembatasan geografis seperti ini biasanya ditentukan oleh perusahaan yang bersangkutan," kata Francis kepada Reuters.

Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut umumnya hanya berdampak pada akses informasi dan bukan pada operasional sistem yang vital. Pihak SpaceX maupun jajaran penjamin emisi utama termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan JPMorgan memilih bungkam dan tidak merespons pertanyaan media.

Isolasi digital ini terjadi saat SpaceX tengah bersiap mencetak rekor finansial baru. Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk tersebut membidik dana segar senilai US75 miliar dengan harga tetap US135 per saham. Target ini melambungkan valuasi SpaceX hingga menyentuh US$1,75 triliun, menjadikannya rencana IPO terbesar dalam sejarah pasar modal. Emiten berkode "SPCX" ini dijadwalkan melantai di bursa Nasdaq paling cepat pada 12 Juni, menyusul penetapan harga final pada 11 Juni.

Barikade digital ini mempertegas ketegangan geopolitik yang melingkupi teknologi sensitif Amerika Serikat. Sebagai kontraktor utama Pentagon dan National Reconnaissance Office, SpaceX mengelola infrastruktur pertahanan penting AS, termasuk peluncuran satelit intelijen rahasia. Karakteristik teknologi dual-use milik perusahaan mulai dari roket, komunikasi satelit, hingga kemampuan orbital menempatkan seluruh operasional mereka di bawah pengawasan ketat International Traffic in Arms Regulations.

Kekhawatiran Washington terhadap kebocoran teknologi ini telah lama mengemuka. Pada Februari lalu, dua senator dari Partai Demokrat mendesak Pentagon mengusut dugaan adanya pemodal asal Tiongkok yang menyusup ke SpaceX secara diam-diam untuk mengakuisisi saham. Dokumen S-1 perusahaan yang dirilis pada 20 Mei oleh Nikkei Asia juga secara gamblang mengklasifikasikan Tiongkok sebagai ancaman kompetitif, alih-alih target pasar potensial.

Tekanan bagi para investor tidak hanya datang dari kebijakan internal SpaceX, melainkan juga dari pengetatan aturan domestik Tiongkok sendiri. Financial Times melaporkan bahwa regulator sekuritas Beijing tengah gencar menjatuhkan denda kepada broker lokal yang memfasilitasi pembelian saham luar negeri lewat celah hukum.

Sanksi baru ini memaksa investor Tiongkok hanya diizinkan menjual portofolio asing yang sudah mereka miliki dan menarik dananya dalam tenggat waktu dua tahun ke depan, tanpa opsi untuk membeli saham baru. 

Kombinasi dari pengetatan regulasi Beijing dan pemblokiran akses oleh SpaceX membuat jendela kesempatan bagi pemodal dari Tiongkok dan Hong Kong untuk masuk ke dalam IPO ini kian tertutup rapat.