petani kelapa sawit memanen kelapa sawitnya di Cimulang, Bogor dan memuatnya ke dalam truk untuk dibawa ke pabrik. | HERUSUTUMBUL/CC BY-SA 4.0

Kinerja ekspor minyak sawit Malaysia kembali merosot selama dua bulan berturut-turut pada Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh perubahan peta persaingan global menyusul reformasi sistem kontrol ekspor yang diterapkan Indonesia serta menyusutnya permintaan dari pasar India.

Data terbaru dari surveyor kargo Intertek Testing Services mencatat pengiriman minyak sawit Malaysia pada Mei berlabuh di angka 1,28 juta ton, menyusut 8,8% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 

Kemerosotan ini memperpanjang tren negatif dari April yang anjlok 14,34% ke posisi 1,30 juta ton berdasarkan catatan resmi Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board - MPOB). Macetnya keran ekspor ini otomatis mendongkrak tumpukan stok di gudang-gudang Malaysia sebesar 1,71% menjadi 2,30 juta ton pada akhir April, dan para analis memperkirakan penumpukan persediaan akan terus berlanjut.

Tekanan bagi Malaysia kian nyata setelah Indonesia merombak total tata niaga ekspornya. Pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan satu pintu lewat entitas baru milik negara, PT Danantara Sumber Daya Indonesia, di bawah kendali dana kekayaan negara Danantara. Langkah strategis ini diambil pemerintah untuk membenahi kebocoran pendapatan negara akibat manipulasi harga dagang komoditas unggulan tersebut. 

"Kebijakan ini akan mengatasi praktik under-invoicing yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan merugikan Indonesia hingga US$908 miliar dalam pendapatan yang hilang," jelas Presiden Prabowo Subianto.

Fase pertama kebijakan yang dimulai pada 1 Juni tersebut mewajibkan para eksportir untuk menyerahkan dokumen melalui platform baru, meskipun hubungan kontrak langsung dengan pembeli tetap berjalan. Kendali penuh di mana entitas negara mengelola seluruh kontrak, pengiriman, dan pembayaran ditargetkan berlaku sepenuhnya pada awal 2027.

Alih-alih menyumbat pasokan global, pemberlakuan sistem baru yang bertahap ini justru memantik produsen Indonesia untuk melepas komoditas mereka lebih cepat sebelum aturan ketat berlaku penuh. Imbasnya, Volume ekspor minyak sawit Indonesia melonjak dua digit di awal masa transisi ini, membalikkan prediksi awal pasar yang mengira dinamika ini akan menguntungkan Malaysia.

Di saat pasokan Indonesia membanjiri pasar, India selaku negara importir utama justru mengerem pembelian secara tajam. Laporan Economic Times menunjukkan impor minyak sawit India pada April merosot 27% menjadi 505.000 ton—titik terendah dalam setahun terakhir. 

Penyusutan ini terjadi akibat kelangkaan gas memasak yang dipicu gangguan keamanan di Selat Hormuz, yang memotong konsumsi industri makanan institusional sebesar estimasi 250.000 hingga 300.000 ton per bulan.

Berdasarkan data Solvent Extractors' Association of India, India juga telah membangun pasokan yang cukup besar selama kuartal pertama ketika impor minyak sawit mentah melonjak. Alhasil, Malaysia kini harus berebut kumpulan pembeli yang kian menyusut menjelang Juni, di tengah harga kontrak minyak sawit mentah di Bursa Malaysia yang bertahan di kisaran 4.677 ringgit per ton.