Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyampaikan pidato utama di Perwakilan Negara Bavaria, yang diselenggarakan oleh Konferensi Keamanan Munich (MSC) di Berlin, Jerman 11 Desember 2025. | REUTERS

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte melayangkan peringatan keras langsung kepada generasi muda Rusia agar mengurungkan niat bergabung dalam medan perang di Ukraina. Di tengah eskalasi konflik yang terus memanas, Rutte menyebut peluang bertahan hidup para milisi baru sangat tipis akibat minimnya persiapan dan buruknya logistik militer Moskwa.

Pernyataan tersebut disampaikan Rutte saat menggelar konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kyiv, Rabu (3/6). Kunjungan ini membawa pesan politik yang kuat karena Rutte didampingi oleh ketua Komite Militer NATO serta perwakilan tetap dari seluruh 32 negara anggota aliansi pertahanan tersebut.

Di hadapan media, Rutte secara terbuka menuding Kremlin telah membohongi warganya sendiri mengenai kondisi riil di garis depan pertahanan.

"Saya harus mengatakan sesuatu di sini. Tapi saya perlu mengatakannya kepada anak-anak muda Rusia dan keluarga mereka. Kamu sedang diperdaya," kata Rutte seperti dikutip dari Ukrinform.

Rutte menjabarkan bahwa para pemuda yang direkrut ke medan tempur kerap dikirim tanpa bekal pelatihan yang memadai dan hanya dipersenjatai dengan perlengkapan seadanya.

"Ada kemungkinan sangat besar kalian akan tewas atau terluka di sana dan kemungkinan besar jika kalian terluka, kalian akan dibiarkan menderita di lumpur dan mati," tambah Rutte.

Lonjakan angka kematian tentara Rusia menjadi dasar dari peringatan keras aliansi Barat ini. Berdasarkan kalkulasi NATO, Rusia kehilangan lebih dari 30.000 prajurit setiap bulan, sebuah angka yang melampaui total korban jiwa Uni Soviet selama sepuluh tahun menduduki Afganistan.

"Ini bukan sekadar angka," tutur kepala NATO tersebut.

Klaim tersebut berkelindan dengan berbagai data intelijen Barat yang menunjukkan skala kerugian masif pihak Kremlin sejak invasi penuh dimulai pada Februari 2022. Staf Umum Ukraina memperkirakan total kerugian Rusia mencakup personel yang tewas dan terluka telah mencapai sekitar 1,36 juta tentara.

Data dari negara-negara sekutu memperkuat estimasi tersebut. Kepala badan intelijen GCHQ Inggris pada akhir Mei menyatakan bahwa hampir 500.000 tentara Rusia telah tewas, melampaui total kerugian jiwa Amerika Serikat (AS) sepanjang Perang Dunia II. Penilaian intelijen militer Belanda juga menempatkan angka "kerugian permanen" Rusia pada kisaran 1,2 juta orang, termasuk lebih dari 500.000 korban tewas.

Meski pihak militer Rusia menutup rapat data internal mereka, upaya verifikasi independen terus berjalan. Layanan berbahasa Rusia BBC yang bekerja sama dengan media independen Mediazona sejauh ini telah mengonfirmasi identitas lebih dari 223.000 prajurit dan perwira Rusia yang gugur di medan laga, dengan catatan angka riil di lapangan diyakini jauh lebih tinggi.

Kunjungan tingkat tinggi NATO ke Kyiv ini tidak hanya menyoroti krisis personel Rusia, tetapi juga menegaskan keberlanjutan bantuan militer Barat. Rutte mengonfirmasi bahwa AS terus mengirimkan rudal pencegat PAC-2 dan PAC-3 Patriot ke Ukraina secara berkala setiap hari dan setiap minggu demi menangkal serangan udara.

Pasokan pertahanan udara ini datang cepat di tengah rentetan serangan udara terbaru Rusia yang menyasar Kyiv serta kota-kota strategis Ukraina lainnya. Kendati mendesak Moskwa untuk segera menempuh jalur negosiasi damai, Rutte mengakui belum ada indikasi bahwa Rusia akan menghentikan perang dalam waktu dekat.