![]() |
| Foto: PIXABAY |
Hubungan diplomatik dan ekonomi antara Indonesia dan Rusia berpotensi kian erat seiring rencana Pemerintah Rusia membebaskan visa masuk bagi warga negara Indonesia. Langkah strategis ini bergulir di tengah lonjakan volume perdagangan kedua negara yang terus mencatatkan tren positif.
Kebijakan bebas visa penuh tersebut tidak hanya menyasar Indonesia, melainkan juga tiga negara lain, yakni Malaysia, Bahrain, dan Kuwait. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Moskwa memperluas interaksi dan kemitraan dengan negara-negara strategis di kawasan Asia dan Timur Tengah.
Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Chernyshenko mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai fasilitas bebas visa ini sedang berjalan intensif.
"Kami sedang membahas dengan mitra-mitra kami terkait kemungkinan membebaskan visa sepenuhnya untuk Malaysia, Indonesia, Bahrain, dan Kuwait," ujar Chernyshenko dalam wawancara dengan media Rusia, RIA Novosti, di sela-sela St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF).
Selain pembebasan visa penuh untuk keempat negara tersebut, Rusia tengah merancang skema serupa bagi rombongan wisata terorganisasi dari India dan Vietnam. Mekanisme yang digodok bakal mengadopsi model kesepakatan antar-pemerintah yang sebelumnya sukses diterapkan Rusia bersama China dan Iran.
Keterbukaan Rusia ini gayung bersambut dengan manuver Jakarta yang gencar membidik perluasan pasar baru. Indonesia kini membuka peluang lebar untuk penguatan kerja sama perdagangan jasa di sektor-sektor strategis, mulai dari konstruksi, teknologi informasi, perhotelan, hingga teknologi digital.
Penjajakan ini sebelumnya telah dibahas dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti dengan Deputy Minister of Economic Development of the Russian Federation Vladimir Ilyichev di Kazan, Rusia, pertengahan Mei lalu. Jakarta melihat adanya kecocokan antara kebutuhan industri Rusia dan potensi pasar domestik.
"Selain perdagangan barang, Indonesia juga membuka peluang kerja sama di sektor perdagangan jasa," kata Roro dalam keterangan resmi.
Indonesia optimistis kompetensi sumber daya manusia domestik mampu bersaing dan mengisi ruang kebutuhan pasar di negara tersebut. "Indonesia dinilai memiliki sumber daya manusia terampil di bidang teknologi informasi, konstruksi, perhotelan, dan teknologi digital yang dapat mendukung kebutuhan industri Rusia," tambahnya.
Langkah ekspansif ini sekaligus mempertegas komitmen ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang fokus mendorong hilirisasi industri, peningkatan nilai tambah, serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Fondasi dagang kedua negara pun bermodal kuat. Sepanjang 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia menembus US$ 4,8 miliar atau sekitar Rp 79,2 triliun, melonjak 21,7% dibanding tahun sebelumnya.
Rusia kini memegang posisi krusial sebagai mitra utama Indonesia di kawasan Eurasian Economic Union (EAEU) dengan kontribusi dominan mencapai 90,6% terhadap total perdagangan Indonesia di kawasan tersebut.
"Hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia terus menunjukkan tren positif," tutur Roro. "Kami ingin memastikan momentum ini dapat terus diperkuat melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan dan kerja sama investasi yang lebih luas."
0Komentar