Ilustrasi: Pekerja beraktivitas di lokasi pengerjaan proyek rel kereta api trans Sulawesi di Desa Pekkae, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Pemerintah Indonesia membuka peluang bagi perusahaan asal Rusia untuk terlibat dalam pengembangan koridor perkeretaapian strategis nasional. Langkah ini diambil demi mempercepat pemerataan pembangunan serta memperkuat jaringan konektivitas di berbagai pulau besar.

Rencana penguatan infrastruktur tersebut dibahas langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Menteri Transportasi Federasi Rusia Andrey Nikitin di Moskwa, Rusia. 

Pertemuan bilateral ini difokuskan pada pembangunan sistem transportasi modern yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Sejumlah proyek perkeretaapian skala besar di luar Pulau Jawa menjadi fokus utama yang ditawarkan kepada investor Rusia. Proyek-proyek strategis tersebut meliputi jaringan Trans-Sumatra, Trans-Sulawesi, dan Trans-Kalimantan.

Kondisi geografis Indonesia yang membentang luas menjadi dasar pemerintah untuk memantik akselerasi di sektor perhubungan ini. Saat memberikan penjelasan di Moskwa, AHY memaparkan tantangan logistik yang dihadapi tanah air.

“Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.380 pulau dan populasi sekitar 280 juta jiwa. Bagi kami, transportasi adalah urat nadi yang mempersatukan bangsa dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara,” ujar AHY dikutip dari Antara, Minggu (7/6).

Rekam jejak Rusia dalam mengelola transportasi publik urban juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Indonesia. Sistem Metro Moskwa dibidik sebagai referensi berharga untuk pengembangan moda transportasi massal seperti MRT, LRT, dan kereta komuter yang saat ini terus dikembangkan.

Di luar pembangunan fisik rel, ruang kerja sama kedua negara dirancang mencakup aspek teknologi dan manufaktur sarana-prasarana perkeretaapian. Indonesia menjajaki rekayasa teknologi kereta berkecepatan tinggi serta angkutan berat (heavy-haul rail). 

Pembahasan juga menyentuh penguatan standar keselamatan operasional, adopsi perkeretaapian rendah karbon, hingga kolaborasi riset demi mendongkrak kapasitas sumber daya manusia.