PL-15E, varian ekspor dari rudal udara-ke-udara jarak jauh (Beyond Visual Range Air-to-Air Missile) buatan Tiongkok.

China diduga tengah mengembangkan rudal udara-ke-udara generasi baru bernama PL-16 yang diklaim mampu menjangkau target hingga lebih dari 300 kilometer, melampaui kemampuan pendahulunya maupun rudal terbaru Amerika Serikat.

Informasi ini muncul dari sebuah gambar yang beredar di internet dan disebut sebagai materi presentasi internal mengenai perkembangan rudal udara-ke-udara China, mulai dari PL-11, PL-12, PL-15, hingga PL-16. Keaslian materi tersebut belum dikonfirmasi secara independen.

Kemunculan informasi soal PL-16 terjadi hanya beberapa pekan setelah foto pertama AIM-260 milik Angkatan Udara Amerika Serikat beredar ke publik. Rudal buatan China itulah yang selama ini disebut menjadi salah satu alasan Washington mengembangkan AIM-260.

Berdasarkan klaim dalam materi yang beredar, PL-16 memiliki jangkauan lebih dari 50% lebih jauh dibanding AIM-260. Artinya, rudal AS itu justru lebih sebanding dengan PL-15 yang jangkauannya sekitar 200 kilometer.

PL-15 sendiri saat ini menjadi tulang punggung persenjataan udara China. Rudal ini menggunakan mesin roket padat dual-pulse yang memungkinkan jangkauan jauh, dilengkapi radar Active Electronically Scanned Array (AESA), serta sistem komunikasi data satu arah untuk menerima pembaruan posisi target selama penerbangan.

PL-16 disebut membawa sejumlah lompatan teknologi dibanding pendahulunya. Materi yang beredar menyebutkan rudal ini akan menggunakan mesin roket padat dengan daya dorong variabel, yang memungkinkan pengaturan dorongan secara terus-menerus dan realtime guna mengoptimalkan penggunaan energi. Rudal ini juga diklaim dilengkapi radar AESA dan sistem komunikasi data dua arah, peningkatan signifikan dari PL-15 yang hanya memiliki komunikasi satu arah.

Secara keseluruhan, PL-16 diklaim menawarkan jangkauan serangan lebih panjang, kemampuan anti-jamming lebih kuat, daya tembus pertahanan yang lebih baik, serta fleksibilitas operasional yang lebih luas.

AIM-260 sendiri dirancang AS sebagai penerus AIM-120, rudal udara-ke-udara paling canggih yang mereka miliki saat ini. Ukurannya yang mirip AIM-120 memungkinkan rudal ini ditempatkan di ruang senjata internal pesawat seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, namun dengan jangkauan yang jauh lebih panjang. 

AIM-260 menggunakan konfigurasi badan tanpa sayap dan hanya mengandalkan empat sirip ekor untuk kendali, serta mesin roket padat dual-pulse dengan pencari target berbasis radar AESA.

Nama PL-15 sendiri mulai mendapat sorotan internasional setelah varian ekspornya, PL-15E, digunakan Angkatan Udara Pakistan dalam konflik dengan India tahun lalu. Salah satu insiden yang dilaporkan melibatkan jet tempur Rafale buatan Dassault Perancis milik India, yang diklaim dihancurkan oleh PL-15E yang diluncurkan dari jarak lebih dari 180 kilometer oleh jet tempur J-10CE China. 

Itu menjadi kali pertama rudal buatan China diuji dalam pertempuran nyata, dan hasilnya memantik perhatian luas terhadap kemampuan persenjataan udara Beijing, khususnya dalam pertempuran jarak jauh.