Kapal JS “Asagiri” memasuki pelabuhan di Pangkalan Angkatan Laut Maizuru. | SENGOKU2501/CC BY-SA 4.0

Kerja sama militer antara Indonesia dan Jepang memasuki babak baru lewat rencana pengadaan alutsista laut. Kedua negara resmi menyepakati pembentukan kelompok kerja untuk membahas teknis potensi ekspor kapal perusak kelas Asagiri yang saat ini masih aktif memperkuat armada Pasukan Bela Diri Maritim Jepang. 

Kesepakatan strategis ini dicapai dalam pertemuan bilateral antara Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi di Tokyo, Jumat (5/6).

"Kedua pihak akan memulai pembahasan dalam kelompok kerja bidang peralatan dan teknologi pertahanan," jelas pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Jepang. Otoritas Tokyo memastikan bahwa kapal perusak kelas Asagiri masuk dalam daftar aset utama yang sedang dipertimbangkan secara serius untuk dialihkan ke Jakarta.

Negosiasi di Tokyo ini melanjutkan fondasi kuat yang diletakkan selama kunjungan Koizumi ke Indonesia pada awal Mei lalu. 

Saat itu, kedua menteri meneken Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang memperluas kolaborasi teknologi militer, sekaligus menelurkan Mekanisme Dialog Pertahanan Terpadu guna mempererat koordinasi melalui pertukaran intensif di tingkat menteri, wakil menteri, hingga perwira militer senior.

Akselerasi kerja sama ini bergulir pascarombakan regulasi pertahanan di Tokyo pada 21 April. Jepang merevisi "Tiga Prinsip Transfer Peralatan dan Teknologi Pertahanan" untuk mengizinkan ekspor senjata mematikan pertama kalinya sejak Perang Dunia II kepada negara mitra yang telah menandatangani perjanjian keamanan informasi. Indonesia menjadi satu dari 17 negara yang memegang komitmen keamanan tersebut dengan Tokyo.

Kapal perusak kelas Asagiri sendiri mulai beroperasi pada akhir 1980-an dan lama menjadi tulang punggung armada laut Jepang. Bagi Tokyo, pemanfaatan aset angkatan laut yang mulai memasuki masa pensiun ini menjadi strategi jitu memperkuat hubungan keamanan maritim dengan negara mitra, terutama yang tengah menghadapi tekanan dinamis di perairan sengketa kawasan.

Langkah Tokyo ini sejalan dengan ambisinya mempercepat diplomasi pertahanan di Asia Tenggara. Melansir laporan Breaking Defense awal tahun ini, Jepang gencar menjalin komunikasi intensif dengan Australia, Indonesia, dan Filipina guna memperluas jejaring industri pertahanan di seluruh wilayah Indo-Pasifik.

Sebelum kesepakatan dengan Jakarta bergulir, Koizumi juga telah mengunci komitmen serupa dengan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro pada Mei lalu. 

Keduanya sepakat membentuk kelompok kerja untuk transfer kapal perusak eskort kelas Abukuma dan pesawat TC-90 ke Manila. Berbeda dengan skema komersial Indonesia, pengiriman alutsista ke Filipina diproyeksikan berbasis hibah yang ditargetkan mulai berjalan paling cepat pada 2027.