Seseorang menunjuk ke halaman di situs web Marinetraffic yang menunjukkan lalu lintas kapal komersial di tepi Selat Hormuz dekat pantai Iran, di Paris pada 4 Maret 2026. Julien De Rosa / AFP

Perang terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah memicu guncangan ekonomi global senilai US$2,2 triliun, namun beban terberat justru menimpa negara-negara Teluk yang secara geografis terjebak di pusaran konflik. 

Ketika Selat Hormuz tertutup rapat akibat saling serang sejak awal Maret 2026, sebuah garis pemisah yang brutal terbentuk. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) masih bisa bernapas lewat jalur pipa alternatif, sementara Qatar, Kuwait, dan Bahrain tercekik tanpa jalan keluar.

Situasi ini menciptakan apa yang disebut para analis sebagai "Paradoks Hormuz". Negara-negara yang selama puluhan tahun membangun dominasi dari ekspor energi global kini terisolasi dari pasar mereka sendiri. Pada saat yang sama, infrastruktur vital mereka hancur terbakar dan rantai pasok domestik lumpuh.

Menurut laporan Global Peace Index 2026 dari Institute for Economics and Peace (IEP) yang dirilis awal Juni, konflik yang memanas pasca Operasi Epic Fury, yaitu serangan udara AS dan Israel ke fasilitas nuklir serta militer Iran akhir Februari, telah menyumbat 13 juta barel minyak per hari. 

Arab Saudi dan UEA merespons krisis dengan mengalihkan sekitar 7 juta barel per hari melalui jaringan pipa darat mereka. Bagi Doha, Kuwait City, dan Manama, kemewahan rute evakuasi komersial itu tidak pernah ada.

Qatar, kekayaan menjadi kerentanan

Qatar menjadi potret paling tragis dari kerentanan geopolitik ini. Raksasa gas alam cair (LNG) yang nyaris seluruh jalur ekspornya terkunci di balik Hormuz ini mendapati fasilitas energi hingga infrastruktur air minumnya dihujani proyektil hanya dua minggu setelah blokade dimulai.

Kompleks industri raksasa Ras Laffan Qatar sebelum pecahnya perang. | AFP

Hantaman beruntun ke fasilitas Ras Laffan melumpuhkan denyut nadi industri gas Qatar. Dua unit produksi utama, Train 4 dan Train 6, rusak parah. Insiden ini melenyapkan kapasitas produksi sebesar 12,8 juta ton per tahun dan memaksa QatarEnergy mendeklarasikan force majeure pada puluhan kontrak suplai jangka panjang.

CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi mengonfirmasi estimasi perbaikan memakan waktu tiga hingga lima tahun, membawa potensi kerugian pendapatan tahunan menembus US$20 miliar. 

"Kerusakan ini parah dan berjangka panjang. Fasilitas ekspor terbesar kami tidak akan bisa kembali memenuhi kewajiban pasokan seperti sebelum perang dalam waktu dekat," jelasnya.

Guncangan dari Qatar merombak kalkulasi pasar energi internasional. Hormuz, yang biasanya memfasilitasi 20% perdagangan LNG dunia, kini beroperasi dengan throughput di bawah 3%. Krisis pasokan ini memicu defisit volume LNG global hingga 19%, melahirkan guncangan pasar yang ekuivalen dengan krisis gas Eropa pada periode 2021-2022.

Kuwait dan Bahrain, sama-sama terpukul

Di wilayah utara, Kuwait menghadapi kebuntuan logistik mematikan. Tanpa akses laut dan dengan ruang udara yang tertutup total sejak hari pertama konflik akibat eskalasi militer, ruang penyimpanan minyak Kuwait terisi penuh hanya dalam hitungan hari. Negara ini terpaksa memangkas drastis produksi dan pengilangan yang selama ini menopang 90% pendapatan pemerintah mereka.

Markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain dalam foto satelit ini pada 21 Februari 2026. | Planet Labs PBC 

Sementara itu, nasib Bahrain memotret ironi pahit dari kehadiran militer asing. Sebagai tuan rumah markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, Manama langsung masuk dalam radar tembak Iran. Rudal yang diluncurkan pada 28 Februari meleset dari instalasi militer AS namun justru menghantam satu-satunya kilang minyak di negara tersebut. 

Situasi ini memaksa perusahaan minyak negara Bapco menangguhkan operasionalnya pada 9 Maret. Kehadiran militer AS yang seharusnya menjadi payung keamanan justru menyeret ekonomi Bahrain ke bibir jurang, terutama mengingat posisi fiskal negara tersebut sudah terperosok di zona junk dengan utang tinggi sebelum perang pecah.

"Negara-negara Teluk kini terjepit di antara palu dan landasan," tutur Salem Al-Jahouri, jurnalis dan peneliti, membedah posisi serba salah blok Arab yang terperangkap dalam perang pihak lain.

Dampak Hormuz melampaui sektor energi

Beban negara-negara ini tidak hanya berasal dari hilangnya pendapatan, tetapi juga pembengkakan ongkos bertahan hidup. Kuwait harus membakar anggaran pertahanan hingga US$1,5 miliar untuk melindungi Pangkalan Udara Ali al-Salem. Bahrain ikut menghabiskan ratusan juta dolar demi mencegat rentetan ancaman udara.

Lebih jauh, kerusakan tatanan ini menyentuh fondasi ekonomi global yang lebih luas. Blokade Hormuz tidak hanya menahan minyak, tetapi juga menjebak 45% pasokan sulfur dan 50% urea global, dua komoditas krusial penyokong pupuk dan ketahanan pangan dunia. 

Fasilitas milik QatarEnergy di Ras Laffan Industrial City, Qatar. | AFP

Di sisi lain, sekitar 40% pasokan helium dunia yang berasal dari Qatar dan sangat vital bagi industri semikonduktor kini mandek di pelabuhan.

Teluk di ujung tanduk

Dengan macetnya diplomasi antara Washington dan Teheran atas status program nuklir dan front Lebanon, blokade selat dikhawatirkan terus berlanjut setidaknya hingga September. 

Di bawah skenario eskalasi yang diproyeksikan IMF dan Goldman Sachs, Qatar menghadapi penyusutan PDB paling brutal hingga 15% atau setara US$54 miliar. Menyusul di belakangnya adalah Kuwait dengan kontraksi 14%, dan Bahrain sebesar 10%. 

Angka-angka ini mempertegas realitas baru Timur Tengah, bahwa perang asimetris ini perlahan merombak struktur kekayaan negara Teluk tanpa memberi mereka kendali sekecil apa pun atas nasibnya sendiri.