Ilustrasi aktivitas bongkar muat logistik di terminal peti kemas pelabuhan. | UNISCO
Indonesia dan Filipina tengah menjajaki skema barter sebagai alternatif untuk menghindari ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan bilateral, di tengah tekanan pelemahan nilai tukar kedua negara.

Gagasan ini muncul dari pertemuan Menteri Perdagangan Budi Santoso dengan seorang pengusaha Filipina di sela-sela ASEAN Joint Foreign and Economic Ministers (AMM-AEM) Meeting di Cebu. Pengusaha tersebut selama ini telah mengimpor sejumlah produk asal Indonesia dan mengusulkan mekanisme barter untuk memperlancar transaksi tanpa harus bergantung pada dolar.

Kementerian Perdagangan langsung menindaklanjuti usulan itu dengan mencari mitra pembeli yang sesuai. Calon pembeli diklaim sudah ditemukan, dan penandatanganan kontrak kerja sama ditargetkan rampung pada 12 Juni mendatang, bersamaan dengan pertemuan antara Budi dan para pelaku usaha Filipina.

"Kami memiliki alternatif lain, seperti barter. Pada tanggal 12 Juni, kami akan bertemu dengan para pelaku bisnis Filipina," kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, seperti dikutip Antaranews.

Komoditas yang masuk dalam skema tersebut belum diungkap. Pemerintah memastikan rinciannya baru akan disampaikan saat penandatanganan kontrak berlangsung.

Budi juga menegaskan pemerintah terus memantau distribusi dan ketersediaan pasokan untuk memastikan kebutuhan industri dan masyarakat tetap terpenuhi di tengah tekanan nilai tukar yang membayangi harga pangan dan bahan baku impor.