Model jet tempur FCAS dipamerkan di Paris Air Show. Proyek senilai €100 miliar ini kini resmi dibatalkan setelah Dassault dan Airbus gagal bersepakat.

Ambisi Presiden Emmanuel Macron untuk menciptakan kemandirian militer Eropa kembali membentur realitas. Prancis dan Jerman sepakat menyudahi pengembangan bersama jet tempur generasi keenam, sebuah keputusan yang tidak hanya mengubur proyek senilai €100 miliar, tetapi juga memperlihatkan rentannya aliansi pertahanan benua tersebut ketika dihadapkan pada persaingan industri, sejarah, dan doktrin militer nasional.

Kesepakatan penghentian ini lahir dari perbincangan sela Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Macron dalam KTT Uni Eropa-Balkan Barat di Tivat, Montenegro, pada 5 Juni lalu. Keduanya menyerah pada kebuntuan panjang antara dua raksasa dirgantara pelaksana proyek, Airbus dan Dassault Aviation.

Dua pejabat pemerintah Jerman yang berbicara kepada Reuters membeberkan bahwa para pemimpin menyimpulkan kedua perusahaan "tidak akan mampu bersatu dalam membangun pesawat tempur bersama."

Keengganan meneruskan pengembangan alutsista bernama Future Combat Air System (FCAS) ini dibenarkan oleh sumber pemerintahan Jerman. Kepada Agence France-Presse, pejabat tersebut menyebut Merz langsung mendorong Macron berhenti memaksakan proyek pesawat bersama tersebut karena kedua kepala negara akhirnya "mengakui kenyataan ini".

Kenyataan pahit ini berakar dari benturan bisnis murni, bukan sekadar urusan diplomasi. Dassault Aviation asal Prancis, yang memiliki rekam jejak panjang membangun jet tempur secara mandiri, menolak keras mentransfer hak kekayaan intelektual atau "resep rahasia" teknologi penerbangannya kepada Airbus Defence and Space yang mewakili Jerman. 

Dassault menuntut posisi pemimpin proyek tanpa syarat dan menolak skema kompromi "dua pesawat tempur" yang sempat disodorkan CEO Airbus Guillaume Faury.

Keretakan ini juga mencerminkan jurang perbedaan doktrin militer yang tidak bisa dijembatani. Kanselir Merz sebenarnya sudah membunyikan sinyal perpisahan ini sejak Februari lalu saat tampil di podcast Machtwechsel.

Kebutuhan strategis Paris dan Berlin berjalan ke arah yang berlawanan. Prancis mutlak membutuhkan "pesawat yang mampu membawa senjata nuklir dan beroperasi dari kapal induk," kata Merz saat itu, menggarisbawahi spesifikasi yang sama sekali tidak relevan dengan postur pertahanan Jerman.

Ketidakpercayaan Paris terhadap Berlin semakin tajam ketika Jerman baru-baru ini memutuskan membeli armada jet tempur siluman F-35 buatan Amerika Serikat untuk memenuhi kewajiban berbagi nuklir NATO. Langkah Berlin ini dinilai Prancis sebagai pukulan telak bagi visi otonomi strategis Eropa, memperlihatkan bahwa Jerman tetap memilih berlindung di bawah payung teknologi penerbangan AS ketimbang memprioritaskan industri lokal benua tersebut.

Pecah kongsi urusan jet tempur antara Paris dan Berlin seakan mengulang pola sejarah. Pada era 1980-an, Prancis keluar dari konsorsium jet tempur Eropa dengan alasan yang hampir identik: membutuhkan pesawat yang bisa beroperasi dari kapal induk. Perpisahan historis itu melahirkan dua jet tempur pesaing, Eurofighter Typhoon andalan Jerman dan Dassault Rafale milik Prancis—dua pesawat yang ironisnya ingin dipensiunkan lewat proyek FCAS pada 2040 mendatang.

Meski pesawat tempur berawak resmi dibatalkan, nama FCAS tetap dipertahankan untuk menggarap teknologi combat cloud dan sistem drone. Batalnya program inti ini langsung memicu sorotan tajam terkait posisi Spanyol sebagai mitra ketiga, serta potensi negara-negara Eropa melirik proyek rival yang sudah berjalan, yakni Global Combat Air Programme (GCAP) garapan Inggris, Italia, dan Jepang.

Menteri Pertahanan Belgia langsung memberikan penilaian tajam di media sosial menyikapi kabar tumbangnya pilar utama pertahanan udara Eropa ini.

"SCAF sudah mati," tulisnya, menggunakan singkatan bahasa Prancis untuk proyek ambisius yang kini tinggal nama tersebut.