Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyampaikan pidato di kediamannya di Istana Bellevue di Berlin, Jerman, 9 November 2025. | REUTERS
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mendesak reformasi mendasar pada tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB. Dalam pidatonya, Senin (29/6), ia memperingatkan tatanan internasional berbasis aturan kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan Steinmeier saat membuka Konferensi Keberlanjutan Hamburg. Ia menilai dunia tengah memasuki fase baru, ketika norma internasional yang sudah berlaku puluhan tahun mulai tergerus.

"Kita hidup di zaman ketika aturan internasional yang telah memandu kita selama beberapa dekade kini terancam, ketika beberapa negara kuat tidak lagi mengakui aturan-aturan ini dan dengan berani melanggarnya ketika aturan-aturan tersebut menghalangi kepentingan kekuasaan mereka sendiri," katanya, seperti dilaporkan Suddeutsche Zeitung dan dikutip Anadolu Agency.

Menurut Steinmeier, politik global kini lebih banyak digerakkan oleh kalkulasi kekuasaan mentah dan logika zero-sum, menggeser semangat kerja sama yang dulu menjadi fondasi sistem internasional. Ia menyebut situasi ini sebagai gejala kemunduran yang nyata.

"Semangat kebrutalan dan kekejaman sedang melanda politik internasional," tambah Steinmeier.

Meski mengkritik keras kondisi PBB saat ini, Steinmeier menegaskan keluar dari organisasi tersebut bukan jalan keluar yang tepat. Baginya, jalan yang lebih masuk akal adalah mendorong perbaikan dari dalam.

"Penarikan diri dari Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menjadi tindakan yang picik dan fatal. Namun demikian, PBB harus berubah, harus menjadi lebih efisien dan efektif, harus membuktikan bahwa ia dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada para pemimpin otoriter dengan fantasi kemahakuasaan mereka," ujarnya.