![]() |
| APLUSWIRE/ROBIN SANTOSO |
Komposisi Lulusan Perguruan Tinggi Indonesia 2025
0%
komposisi 10 rumpun ilmu, berbobot jumlah lulusan
100%
iArahkan kursor ke batang untuk melihat detail angka
Data terbaru Kemdiktisaintek mencatat 2.547.717 lulusan pada 2025, dan pola distribusinya jauh dari merata. Hampir separuhnya (44,9%) berasal dari rumpun Pendidikan saja, sementara Ekonomi dan Sosial menyusul di posisi kedua dan ketiga. Bersama-sama, ketiga rumpun ini menyerap lebih dari 65% total lulusan tahun ini.
Pola ketimpangan ini bukan fenomena baru. Data PDDikti yang lebih luas menunjukkan rumpun Sosial dan Kesehatan juga konsisten menjadi favorit mahasiswa selama bertahun-tahun, sementara enam rumpun lainnya tertinggal jauh di bawah dua juta lulusan kumulatif.
Kondisi inilah yang mendorong pemerintah mempertimbangkan kebijakan menutup program studi yang dinilai tidak relevan dan mengalami oversupply lulusan dibanding daya serap industri.
Yang justru menarik perhatian adalah posisi rumpun Teknik, tempat bernaungnya Informatika dan Sistem Informasi. Meski hanya menempati peringkat kelima dengan 265.497 lulusan pada 2025, rumpun ini menaungi bidang-bidang yang paling diburu industri digital.
Sayangnya, jumlah lulusan yang besar tidak otomatis berarti pasokan talenta siap pakai. Indonesia diproyeksikan kekurangan sekitar 9 juta profesional TIK hingga 2030, dan hanya sekitar 20% lulusan IT yang dinilai memenuhi standar industri.
Riset lain bahkan menyebut dari sekitar 600 ribu lulusan informatika setiap tahun, hanya 2% yang benar-benar bekerja di sektor IT — sebuah kesenjangan yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai "inflasi lulusan IT".
Di tengah kesenjangan ini, permintaan justru terus melonjak. Kebutuhan akan talenta IT profesional melonjak drastis seiring integrasi kecerdasan buatan dan komputasi awan yang makin masif di berbagai sektor industri Indonesia, mulai dari cybersecurity, cloud architecture, hingga AI engineering.
0Komentar