Asap keluar dari sisi Afghanistan saat truk diparkir di sepanjang pinggir jalan menyusul bentrokan lintas batas antara Pakistan dan pasukan Afghanistan, dekat titik penyeberangan perbatasan Torkham, Pakistan. AP PHOTO/MAAZ AWAN

Pakistan kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan pada Rabu (10/6), menghantam tiga provinsi sekaligus dan menewaskan sedikitnya 13 orang. Sebelas di antaranya adalah anak-anak.

Juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, menyebut serangan itu menyasar rumah-rumah warga sipil di provinsi Khost, Kunar, dan Paktika. Selain korban jiwa, 14 orang lainnya mengalami luka-luka, semuanya perempuan dan anak-anak. Seorang perempuan dan seorang pria lanjut usia turut masuk dalam daftar korban tewas.

"Ini adalah kejahatan kemanusiaan dan tindakan agresi," ujar Mujahid.

Pihak militer dan pemerintah Pakistan tidak secara terbuka mengakui serangan tersebut. Namun pejabat keamanan Islamabad menyampaikan kepada Reuters bahwa operasi itu menyasar "persembunyian dan fasilitas lain milik militan Pakistan yang digunakan untuk menyerang Pakistan."

Tuduhan soal perlindungan terhadap kelompok bersenjata bukan hal baru. Pakistan sudah lama menuding Kabul memberi ruang gerak kepada Taliban Pakistan atau TTP dan Islamic State Khorasan Province, yang dianggap merancang serangan lintas batas dari tanah Afghanistan. Pemerintahan Taliban secara konsisten menolak tuduhan itu, menegaskan bahwa persoalan militansi di Pakistan adalah urusan dalam negeri Islamabad sendiri.

Serangan Rabu ini datang di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih. Kedua negara mencatatkan konflik paling sengit dalam bertahun-tahun pada Februari 2026, ketika Pakistan menggelar operasi udara dan darat besar-besaran yang menembus jauh ke dalam wilayah Afghanistan, termasuk Kabul dan Kandahar. Menteri pertahanan Pakistan saat itu bahkan menyebut kondisi kedua negara sebagai "perang terbuka."

Gencatan senjata akhirnya tercapai melalui mediasi China pada Maret, tapi pondasinya rapuh sejak awal. Konflik sepanjang tahun ini diklaim telah merenggut ratusan nyawa, termasuk dalam sebuah serangan yang menghantam rumah sakit rehabilitasi narkoba di Kabul pada Maret dan diklaim pihak Afghanistan menewaskan lebih dari 400 orang. Pakistan membantah angka itu.

Misi PBB di Afghanistan sebelumnya mendokumentasikan 56 kematian warga sipil akibat operasi militer Pakistan hanya dalam satu pekan pada akhir Februari hingga awal Maret, 24 di antaranya anak-anak. Serangan terbaru ini menambah panjang catatan korban sipil yang berulang kali memantik kecaman dari pengamat internasional dan lembaga kemanusiaan.

Hingga Rabu pagi, Pakistan belum mengeluarkan pernyataan resmi.