Prancis dan Inggris siap menerjunkan misi militer gabungan ke Selat Hormuz guna memulihkan keamanan jalur pelayaran global. Langkah taktis ini diambil menyusul tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri konfrontasi bersenjata selama hampir empat bulan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesiapan armada tersebut menjelang pertemuan G7 untuk menyambut Presiden AS Donald Trump pada Senin. Menurut Macron, seluruh instrumen militer di lapangan kini dalam posisi siaga tinggi.
“Aset-aset misi multinasional tersebut telah siap di tempatnya dan siap untuk dikerahkan,” ujar Macron.
Ia menambahkan bahwa operasi pemulihan dapat dimulai dalam dua hingga tiga hari jika seluruh pihak memberikan persetujuan.
Melalui akun resminya di platform X, Macron menegaskan krusialnya pembukaan kembali jalur energi dunia tersebut. “Pemulihan lalu lintas maritim, tanpa pembatasan atau pungutan, merupakan syarat mutlak bagi stabilitas kawasan dan perekonomian global,” tulis Macron.
Rencana pengamanan maritim ini sebetulnya sudah dimatangkan selama berbulan-bulan oleh Prancis dan Inggris. Operasi multinasional ini melibatkan kapal perang, kapal penyapu ranjau, serta armada pengawas udara dari belasan negara mitra. Belanda dan Italia tampil sebagai kontributor utama dengan masing-masing mengerahkan kapal fregat dan kapal penyapu ranjau.
Gugus tempur kapal induk Charles de Gaulle milik Prancis sebenarnya sudah bersiaga di kawasan tersebut sejak awal Mei. Kendati demikian, laporan Reuters menyebutkan bahwa kapal induk raksasa itu tidak akan diterjunkan langsung untuk beroperasi di dalam selat.
Terobosan diplomatik yang membuka jalan bagi misi maritim ini bermula pada Minggu. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi bahwa Washington dan Teheran telah merampungkan nota kesepahaman untuk mengakhiri perselisihan. Prosesi penandatanganan resmi kesepakatan damai dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni di Swiss.
Menyambut perkembangan tersebut, Donald Trump melalui platform Truth Social menulis bahwa dirinya telah mengizinkan "pembukaan bebas hambatan Selat Hormuz". Ia juga memerintahkan pencabutan segera blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Selat Hormuz menjadi episentrum gangguan ekonomi dunia setelah Iran menutupnya total menyusul pecahnya perang pada 28 Februari lalu. Sebelum konflik meletus, koridor air ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Segera setelah kabar kesepakatan damai tersiar, harga minyak mentah di pasar internasional langsung merosot tajam.
Meski peta jalan damai mulai terbuka, potensi hambatan diplomatik masih membayangi karena Teheran sebelumnya berulang kali menolak kehadiran militer Barat di selat tersebut.
Mengantisipasi kondisi ini, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengaku telah membahas inisiatif Eropa tersebut dengan mitranya dari Iran pada pekan lalu.
Menurut laporan Bloomberg, Prancis dan Inggris telah merampungkan cetak biru pembersihan ranjau sejak awal Juni. Langkah cepat ini disiapkan agar pasukan di lapangan bisa langsung bergerak dalam hitungan hari begitu kesepakatan politik tercapai.
Operasi gabungan ini dirancang murni sebagai misi defensif yang berfokus pada pengawalan kapal komersial dan pembersihan ranjau, bukan untuk operasi tempur ofensif. Pengerahan awal pasukan diproyeksikan berjalan beriringan dengan masa gencatan senjata selama 60 hari. Selama periode ini, negosiasi tingkat tinggi akan terus berlanjut guna mencari penyelesaian permanen, termasuk membahas kelanjutan program nuklir Iran.
0Komentar