PM Israel Benjamin Netanyahu berpidato di hadapan para anggota parlemen di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, Senin (10/11/2025). | AP PHOTO/Ohad Zwigenberg

Parlemen Israel, Knesset, memberikan suara 106-0 dalam pembacaan pertama RUU pembubaran diri pada Senin malam. Langkah itu datang hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengklaim perannya dalam membujuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membatalkan rencana serangan militer ke pinggiran selatan Beirut.

Proses pembubaran ini sebetulnya telah dimulai koalisi sejak 13 Mei, dengan pemungutan suara awal menghasilkan 110-0 pada 20 Mei. Kali ini para anggota parlemen menyepakati sejumlah kemungkinan tanggal pemilihan antara 8 September hingga 20 Oktober, meski belum ada kepastian. 

Politisi Israel menanggapi pemungutan suara pembubaran Knesset di Yerusalem, 20 Mei 2026. | REITERS/Ronen Zvulun

RUU tersebut masih harus melewati dua pembacaan tambahan sebelum berlaku, dan para analis memperkirakan pemilu kemungkinan akan digelar menjelang hari raya besar Yahudi.

Trump memposting di Truth Social bahwa ia telah menghubungi Netanyahu dan memintanya "untuk tidak melancarkan serangan besar ke Beirut, Lebanon. Dia menarik pasukannya mundur. Terima kasih, Bibi!" 

Reuters melaporkan Israel menyetujui penarikan mundur pasukan yang sebelumnya bersiap menyerang Lebanon selatan, sementara Hizbullah berkomitmen melalui perantara untuk menghentikan serangan terhadap Israel.

Gencatan senjata baru itu terbentuk di tengah situasi yang memanas. Iran menangguhkan negosiasi dengan AS sebagai bentuk protes atas meluasnya ofensif Israel di Lebanon. Media pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan Teheran menghentikan "pembicaraan dan pertukaran teks melalui perantara." Laporan itu juga mencatat Iran juga menyebut serangan AS di dekat Selat Hormuz sebagai alasan tambahan penangguhan itu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran "secara tegas merupakan gencatan senjata menyeluruh, yang mencakup semua lini, termasuk Lebanon."

Situasi ini memperumit posisi Netanyahu menjelang pemilu. Kampanyenya bertumpu pada dua klaim utama, yakni bahwa hanya ia yang mampu menjamin keamanan Israel, dan bahwa kedekatan pribadinya dengan Trump memberi keuntungan diplomatik. Desakan terbuka Trump agar Netanyahu mengubah sikapnya soal Beirut memperlihatkan batas-batas dari hubungan keduanya. 

Penghentian negosiasi oleh Iran, yang prosesnya hampir tidak melibatkan Israel sama sekali, juga menunjukkan betapa terbatasnya pengaruh Israel terhadap dinamika regional yang lebih luas. Berbagai survei mengindikasikan Netanyahu berpotensi kalah jika pemilu tetap digelar.